RotaryIndonesia.com – Saat itu, 1986, usia saya 34 tahun. Saya berdiri di ambang pintu Rotary bukan sebagai CEO dengan segudang capaian, tapi sebagai seorang guru sederhana yang membawa satu tekad sederhana: Kemantapan hati menemukan teman yang seirama.
Banyak orang tanya, “Ngapain masuk Rotary? Apa yang saya dapatkan dari Rotary?”
Namun, saya memilih membalik logika itu: “Apa yang bisa saya titipkan untuk Rotary?” Di sini saya mencoba meresapi kearifan Jawa:
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”
“Sepi dari tujuan pribadi, namun tetap giat berkarya.”
Itulah panduan saya. Ketika niat kita adalah memberi tanpa pamrih, kita takkan pernah merasa rugi. Ketika tujuan kita adalah melayani, kita takkan pernah mengenal kata lelah.
Sebagai petualang, kaki saya telah menginjak banyak tempat. Namun, perjalanan itu justru menyadarkan saya pada satu hal:
“树高千丈, 叶落归根”
“Shù gāo qiān zhàng, yè luò guī gēn.”
Setinggi-tingginya pohon menjulang, daunnya akan gugur kembali ke akarnya.
Meski saya suka berkelana dan make-up di berbagai Rotary Club di Indonesia dan mancanegara, hati saya tahu ke mana harus pulang. Saya tak pernah pindah Rotary Club, karena saya percaya kebahagiaan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita pindah tempat, tapi seberapa dalam kita mampu bertumbuh di tempat kita pertama kali ditanam.
Empat puluh tahun bukan waktu singkat. Banyak tantangan, tapi saya selalu ingat:
“Jangan kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. ( Galatia 6:9 )”
Hari ini saya telah menuai, bukan dalam bentuk materi, bukan jabatan, tapi dalam bentuk persaudaraan yang tak lekang oleh waktu, rasa damai karena berguna bagi sesama, dan jiwa yang tetap muda meski raga terus menua dan wajah terus mengkerut.
Hari ini, saya masih di sini, di Rotary, rambut memutih dibalik semir rambut, kulit mengkerut tersembunyi di balik kilatan subscreen.
Masih dengan getar semangat sama!
Bagi saya, jadi Rotarian bukan lagi aktivitas, tapi Identitas. Saya tak melihat pintu keluar, karena tak ada kata “pensiun” dalam kemanusiaan.
Di Rotary, usia tak membuat kita usang, pengalaman tak membuat kita sombong, dan memberi tak membuat kita miskin. Justru sebaliknya: Rotary membuat kita kaya, bukan kaya jabatan atau uang, tapi kaya dalam makna, kaya dalam cinta.
Pesanku untuk yang Muda
Jangan datang untuk mencari, datanglah untuk memberi. Tetap rendah hati, karena Rotary adalah sekolah kehidupan. Dan jangan pernah berpikir untuk keluar, karena rumah sejati bukan tempat di mana kita dilahirkan, tapi tempat di mana kita terus ingin kembali.
Masih di sini. Masih melayani. Masih dengan hati yang sama: Mantap.
Empat Dekade di Rotary: Manifesto Kesetiaan Seorang Rotarian











