BINA KARAKTER
ANAK SUKA BULLYING?

Ms. Indri mengingatkan siswa bahwa kata-kata dapat meninggalkan luka mendalam dan membentuk karakter seseorang.
banner 468x60

RotaryIndonesia.com – Di Ruang Lab Bahasa Mutiara Persada International School, Ms. Indriyani mendekati Dhania yang tengah menunduk, air mata jatuh di buku catatannya. Tanti dan Lukito berdiri kikuk di dekatnya.

“Kalian tahu, kata-kata itu seperti paku,” Ms. Indri mulai, suaranya lembut menusuk. “Sekalipun kita cabut, lubangnya tetap tinggal.”

“Tapi, Ms, aku cuma bercanda soal sepatunya,” Tanti membela diri.

“Canda itu membuat Dhania merasa tak berharga!” Ms. Indri menatap Tanti dan Lukito bergantian.

“Dengarkan! Anak yang suka bullying, diam-diam sedang melatih diri menggunakan kekuasaan semena-mena. Itu benih paling subur untuk korupsi saat dewasa: menindas yang lemah demi kepentingan sendiri. Sedangkan bagi anak korban bullying, luka ini bisa jadi akar kepahitan, atau justru membuatnya kelak ikut menindas saat ia punya kuasa. Jadi rantai kegelapan.”

Ruang hening. Dhania mengangkat wajah.
Ms. Indri melanjutkan: “Hidup ini bukan untuk siapa yang paling kuat. Ingat Four Way Test, sebelum bertindak:
▪   Apakah itu BENAR?
▪   Apakah itu ADIL bagi semua?
▪   Apakah itu membangun Persahabatan?
▪   Apakah itu BERMANFAAT bagi semua?

“Ucapanmu tadi tidak benar karena merendahkan, tidak adil, menghancurkan persahabatan, dan menyakiti. Gagal di Four-Way Test.”

Ia menyentuh bahu Dhania: “Ingat!”

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. (Amsal 22:6)”

“Jalan yang patut adalah hormat, bukan cemooh.”

Kita semua punya tanggung jawab untuk membimbing teman kita ke jalan yang benar sejak dini, itu fondasi karakter yang kuat yang akan bertahan sepanjang hidup kita.

Kemudian Ms. Indri berkata: “”Wahai orang2 beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok dan jangan pula perempuan2 mengolok2 perempuan lain karena boleh jadi mereka  lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim. Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 11 )”

Al-Quran melarang kita mengolok-olok, karena boleh jadi yang diolok-olok lebih baik dari yang mengolok-olok.

Ms Indri lalu menulis di papan tulis, berkata:  “Ajining diri saka lathi”

“Harga diri seseorang terletak pada ucapannya. Mulutmu adalah cermin jiwamu.”

Tanti menunduk, air mata mulai menggenang. “Ms… saya…”

“Gantilah olok-olok itu dengan satu pujian tulus kepada Dhania, setiap hari, mulai sekarang. Itulah keberanian sejati,” sambut Ms. Indri lembut.

“Kelak, Indonesia butuh generasi yang membangun, bukan meruntuhkan; yang memeluk, bukan memukul.”

 

Bacaan Lainnya
banner 300x250

 


Footnote:
“Dikembangkan dengan bantuan AI; dimodifikasi oleh penulis untuk tujuan edukasi; lisensi: CC BY-NC 4.0.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60