Wejangan Hidup
Bukan Sekadar Tangisan

banner 468x60

RotaryIndonesia.com – Di Mutiara Persada International School, Ruangan Perpustakaan hening. Ms Indriyani bersama tiga siswanya duduk di sana, tenang, membaca.

Dhania memecah sunyi, “Ms. Indri, Gimana mencegah  korupsi tumbuh dari kecil?”

Ms. Indri tersenyum, menatap ketiganya: “Bayangkan, ada anak nangis minta mainan. Ibunya langsung beli, padahal di rumah sudah menumpuk. Esoknya ia merengek lagi, dan lagi-lagi dibelikan. Begitu tak dituruti, si anak jerit-jerit. Lagi-lagi dituruti.”

Itulah bibit korupsi!

“ingat!”
“闻过怒 闻誉乐 损友来 益友却”
“Wén guò nù, wén yù lè, sǔn yǒu lái, yì yǒu què”

“Jika marah mendengar kritik dan senang dipuji, teman jahat akan datang, teman baik akan menjauh.”
“Jika seorang pemimpin hanya ingin dengar pujian, ingin selalu dituruti, ingin disuap dan dijilat, ia akan hancur sebagai koruptor.

Tanti mengerutkan dahi: “Tapi sayang anak itu penting!”

“Tepat,” jawab Ms. Indri lembut, “namun cinta tanpa batas jadi racun. Sayang bukan berarti selalu menuruti. Mentalitas harus dapat, harus diwaspadai, mentalitas ‘Aku Mau Sekarang’ harus dicegah.

“Saat kecil, ia menangis minta mainan. Saat dewasa, ia bisa memeras cliennya atau merampok uang negara tanpa air mata.”

“Anak harus belajar menahan diri!”

Lukito mengangguk. “Jiwa korupsi berawal dari jiwa yang sejak kecil tak pernah belajar menunda senang…”

Korupsi tak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang selalu ingin dituruti. Integritas dibangun sejak dini.

 

Bacaan Lainnya
banner 300x250


“Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Amsal 25:28. Pengendalian diri itu seperti tembok pelindung. Orang yang tak memiliki pengendalian diri seperti kota yang tanpa tembok pertahanannya, sehingga ia jadi sangat rentan terhadap berbagai ancaman dan godaan dari luar.”

“Walladzîna idzâ anfaqû lam yusrifû wa lam yaqturû wa kâna baina dzâlika qawâmâ,  Dan termasuk hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, orang yang apabila menginfakkan harta, mereka tak berlebihan, dan tak pula kikir, melainkan di antara keduanya secara wajar. ( Kemenag RI 2019 ).”

“Ini mengajarkan prinsip keseimbangan dan moderasi, orang yang tak boros, tak pula kikir, tapi selalu ambil jalan tengah yang adil”

“Pendidikan karakter harus menekankan pengendalian diri untuk menunda kesenangan dan tak berperilaku berlebihan, sebagai fondasi penting mencegah sikap dan mentalitas korupsi.”

Ms Indri lalu menulis di papan tulis:

“Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.”
“Segala angkara murka, keserakahan yang ingin menang sendiri, akan hancur oleh kebajikan, oleh pengendalian diri yang tulus.”

Dhania bertanya: “Lalu apa solusinya?”

Ms. Indri menulis di papan tulis:

1. Apakah itu benar?


2. Apakah itu adil bagi semua?


3. Apakah itu membangun persahabatan?


4. Apakah itu bermanfaat bagi semua?



Katanya: “Sebelum bertindak, tanya pada diri sendiri.”

“Misal, saat mau nyerobot antrean,  tanyakan: ‘ini benar? Ini adil bagi semua? Ini membangun persahabatan? Ini bermanfaat.bagi semua?

Kalau jawabnya tidak, NOOO, ya jangan lakukan!

Keputusan mengantre itu fondasi membangun integritas jiwa. Saat jadi pemimpin, akan menolak suap, menepis godaan korupsi, meski semua orang lain melakukannya. Itu karena sudah terbiasa berperang melawan ‘aku mau sekarang’ sejak kecil.”

Lukito, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara: “Jadi, menunda membelikan mainan hari ini, adalah latihan menolak korupsi di masa depan?”

Ms. Indri tersenyum: “Sebarkan integritasmu dan dunia tak akan lagi tenggelam dalam korupsi.”

 

 


Footnote:
“Dikembangkan dengan bantuan AI; dimodifikasi oleh penulis untuk tujuan edukasi; lisensi: CC BY-NC 4.0.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60