RotaryIndonesia.com – Siang itu, Lab Bahasa Mutiara Persada Inernational School tampak lengang. Di pojok, Lukito duduk dengan tampang sedih. Jabatan Ketua OSIS baru saja ia lepaskan.
“Aku ga ngerti. Sudah kerja mati-matian, ujungnya cuma dibilang diktator dan pencitraan,” keluhnya.
Dhania menepuk bahu Lukito: “Sabar! Katanya mau jadi pemimpin besar, masa baru gitu udah tumbang?”
“Bukan tumbang. Tapi rasanya sakit. Pengorbanan kita seolah hilang, yang diingat cuma salahnya saja,” balas Lukito lirih.
Tanti mendekat: “Lukito, ‘Kecamlah orang bijak, maka ia akan mengasihimu.’ ( Amsal 9:8 ). Kritik itu bisa jadi cara semesta bilang kalau kamu cukup bijak untuk tumbuh.”
Ms. Indriyani yang menyimak dari meja guru kemudian berdiri, menuliskan di papan tulis: “KECILKAN OTAK, BESARKAN HATI”
“Anak-anak, lihat ini:
聞譽恐,聞過欣。
Wén yù kǒng, wén guò xīn.
Mendengar pujian, hendaknya kita waspada, mendengar kritik, hendaknya kita gembira.
Lukito mengernyit. “Gembira dikritik? Mana ada orang waras suka dicela, Ms Indri?”
“Justru di situ intinya,” Ms. Indri tersenyum. “Kecilkan otak bukan jadi bodoh, tapi kecilkan Ego, bagian otak yang merasa paling benar. Besarkan hati berarti lapangkan hati untuk mengakui ketidaksempurnaan.”
Dhania matanya berbinar. “Ooooo……!”
“Wa lanabluwannakum bi syai`im minal-khaufi wal-jū’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn.”
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” ( QS. Al-Baqarah (2): 155 )”
“Kita pasti diuji dengan ketakutan dan kekurangan. Pemimpin yang hebat bukan yang tanpa cela, tapi yang sabar saat celanya diingatkan.”
“Tepat,” sambung Ms. Indri. “Gunakan Four-Way Test untuk menilai: Apakah kritik itu benar? Adil? Membangun persahabatn? Bermanfaat bagi semua?”
“Jika iya, telan sebagai jamu. Jika tidak, buang jauh tanpa hati injadi panas.”
Ms. Indri menatap mereka satu-satu: “Generasi kalian hebat, tapi rawan ‘mental kerupuk’. Renyah di luar, tapi remuk saat kena dikit tekanan. Baru dikomentari netizen langsung down dan menyerang balik sekeras-kerasnya. Itu tanda otak atau ego kalian masih terlalu besar, dan hatinya terlalu sempit.”
Ia menghampiri Lukito dan menepuk bahunya. “To, Ibu bangga padamu. Kamu dikritik karena kamu berkarya. Orang yang tak melakukan apa-apa tak akan dikritik, tapi mereka juga tak akan pernah menang dan dikenang.”
Lukito mendongak, ada binar di matanya: “Jadi, besok aku tak boleh baper lagi, Ms?”
“Boleh baper. Kamu kann manusia. Tapi jangan tenggelam. Pemimpin diuji bukan dari banyak tepuk tangan yang ia terima, tapi dari berapa tegar ia berdiri saat ditampar angin badai kritikan.”
Ms. Indri menutup sesi dengan pesan menggetarkan:
“Jadilah seperti pohon jati. Daun boleh berguguran ditiup angin kritik, tapi pastikan akarmu justru makin menghunjam dalam ke bumi, dan batangmu tetap kokoh menjulang tinggi.”
“Aji godhong garing, ora ana gunane yen ora gelem tiba saka panggone.”
Pemimpin yang tak mau menerima kritik bagaikan daun kering yang tak berguna meski masih di dahan, karena ia tak akan pernah tumbuh lagi.
Refleksi Diri:
Pemimpin sejati tak menghabiskan energi untuk membela diri. Ia mengambil waktu untuk merenung: jika kritik itu benar, ia memperbaikinya dalam diam; jika salah, ia memaafkannya dengan elegan.
Itulah cara terbaik menarik orang tulus untuk mendekat.
Footnote:
“Dikembangkan dengan bantuan AI; dimodifikasi oleh penulis untuk tujuan edukasi; lisensi: CC BY-NC 4.0.












