Ruang Lab Bahasa terasa sejuk dan nyaman. Empat orang duduk melingkar di karpet putih.
Ms. Indriyani, menunjukkan jempolnya: “Lihat sidik jarimu. Tak ada yang sama di dunia ini. Tapi apa kalian tahu, bahasa juga sidik jari.”
‘Ia menunjukkan siapa kita sebenarnya.”
Dhania, matanya menyipit: “Maksudnya?”
Ms. Indri mengangguk:
“凡出言,信為先,詐與妄,奚可焉。
Fán chū yán, Xìn wéi xiān, Zhà yǔ wàng, Xī kě yān
Ketika berbicara, Utamakan kejujuran, Perkataan tipu daya, Tidak diperbolehkan.”
“Kata-kata kita harus jujur dan tulus. Jangan ada rekayasa. Jadi kalau kita bicara manis tapi isinya dusta, sidik jari bicara kita jadi keruh.”
Tanti, memainkan ujung bajunya: “Jujur… kadang susah. Takut disakiti. Takut dibilang kasar.”
Lukito, menambahkan:”Iya, masa kita bilang ‘kamu gemuk’ ke teman? Itu memang jujur tapi menyakitkan.”
Ms. Indri, sambil menulis di papan: “Coba gunakan Four-Way Test sebelum bicara:
▪ Ini BENAR?
▪ Ini ADIL untuk semua?
▪ Ini membangun PERSAHABATAN?
▪ Ini BERMANFAAT untuk semua?
“Kejujuran tanpa kasih itu keras. Kasih tanpa kejujuran itu palsu. Bahasa adalah sidik jari, unik, tapi punya tanggung jawab.”
Dhania, berbinar: “Jadi, misal aku kesal sama Tanti, aku tak diam, tapi juga tak teriak. Aku bisa bilang: ‘Tanti, aku kecewa karena janjimu tak ditepati. Tapi aku tetap temanmu.’”
Tanti, tersenyum kecil: “Ya, aku bisa terima kalau begitu. Daripada kamu pura-pura baik di depanku tapi ngegosip buruk di belakangku.”
Ms. Indri, menghela napas: “Jangan ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun. ( Efesus 4:29, TB )”
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. ( Q.S. Al-Isra (17): 53 )”, Lukito menimpali.
Ms Indri tersenyum :”Lihat? Semua agama sejalan: ‘Lidah adalah jembatan surga atau neraka.’”
Lukito, menepuk jidatnya: “Oooh… Bukan sekadar ‘jangan kasar’, tapi juga ‘jangan diam saat kebenaran perlu disuarakan.’”
Ms. Indri: “Tepat. ‘Ajining diri dumunung saka lathi’”
“Harga diri seseorang terletak pada ucapannya. Sidik jari lidahmu akan dikenang lama setelah kamu pergi.”
Tanti, berbisik: “Aku dulu sering bilang ‘ya udah’ padahal hatiku ga ikhlas.”
Ms. Indri, meraih tangan Tanti: “Kesadaran adalah awal perbaikan. Sekarang coba sebutkan satu perilaku nyata sebagai contoh!”
Dhania: “Saat lihat teman di-bully,. Aku harus berani bilang: ‘Hei, stop. Itu tak benar dan tak adil. Ayo kita bicara baik-baik.’”
Tanti: “Aku janji tak nyebarin berita sebelum kupastikan kebenarannya. Lidah lebih tajam dari pedang.”
Lukito: “Aku akan tulus bilang ‘maaf’, bukan pura-pura. Dan aku akan bilang ‘aku mencintaimu’ ke papa-mamaku sebelum terlambat.”
Ms. Indri: “Bahasa adalah sidik jari kepribadian. Jangan biarkan ia dipenuhi bekas luka dari kata-kata yang tak terjaga.”
Ke empatnya saling terdiam, merenungkan maknanya:
“Kata-kata adalah sidik jari yang berterbangan,
Menjadi malaikat atau ular di telinga pendengarnya.
Jaga lisanmu karena dari mulutlah surga neraka tercipta.”
Wejangan Hidup:
Bahasa adalah Sidik Jari Kepribadian dan Cermin Diri











