Sore di Ruang Lab Bahasa, Mutiara Persada International School, angin semilir menyejukkan.
Ms. Indriyani duduk di depan Dhania, Tanti, dan Lukito, yang tampak masih panas setelah kejadian siang tadi: munculnya story yang menuduh Dhania “sok suci” yang menyebar cepat.
Ms. Indri, bersuara lembut : “Ada apa, anak-anak? Kok tampak marah.”
Dhania, mata berkaca-kaca: “Saya sakit hati, Ms. Kata Tanti di story-nya, saya cuma pura-pura baik.”
Tanti, menunduk: “Saya cuma bilang yang saya lihat.”
Lukito, menghela napas: “Dua-duanya keliru. Akibatnya kelas terbelah.
Ms. Indriyani berdiri, menulis di papan tulis putih: SABAR SUBUR, SEBAR BUBAR.
凡出言,信為先。
詐與妄,奚可焉。
Fán chū yán, xìn wéi xiān.
Zhà yǔ wàng, xī kě yān.
Setiap kali mengucapkan kata-kata
Hendaklah dengan Kejujuran dan ketulusan.
Kata fitnah, tipu daya, kebohongan,
Jangan pernah dilakukan.
Ms. Indri: “Di Zi Gui mengajarkan: ‘Setiap kata yang diucapkan, hendaklah jujur dan tulus. Kata-kata fitnah dan kebencian, jangan pernah diucapkan.’
“Fitnah itu seperti bulu ayam yang ditiup angin. Sekali tersebar, tak pernah bisa kau kumpulkan kembali.”
Dia mengambil sebuah mangkuk berisi air jernih. Lalu meneteskan setetes tinta hitam.
“Lihat? Cuma setetes. Tapi? Seluruh air jadi keruh. Itu terjadi bila kita menebar kebencian. Belum sempat subur, malah bubar!”
Tanti, suaranya bergetar: “Tapi .. saya kesal. Dhania selalu dibilang lebih baik dari saya.”
Ms. Indri: “Maka ujilah ucapanmu dengan Rotary Four Way Test:
1. Ini benar?
2. Ini adil untuk semua?
3. Ini membangun persahabatan?
4. Ini bermanfaat?”
“Story-mu tadi, semua terjawab: tidak benar, tidak adil, merusak persahabatan, dan tidak bermanfaat.”
“Sabar itu bukan kelemahan. Sabar itu subur.”
“Lihat ini: ‘Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.'( Al Qur’an, Al-Hujurat 49:12 )
“Ini juga: ‘Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.’ ( Alkitab, Amsal 15:1 )
“Bahkan kata leluhur kita di Jawa: ‘‘Rame ing gawe, sepi ing pamrih, rame ing rasa, sepi ing hawa nafsu. Banyak berkarya, sedikit pamrih. Banyak rasa, tapi kendalikan amarah.”
Tanti menyentuh bahu Dhania: “Aku minta maaf, Dhania.”
Ms. Indri: “Bagus, bukan cuma minta maaf. Tapi ubah pola komunikasimu.”
“Saat kita dengar gosip tentang teman kita, jangan diteruskan. Diam! Atau lebih baik, bela temanmu yang pas tak ada di sana. Itulah sabar yang subur.”
Ms Indri kemudian menulis di papan:
SABAR = Subur, banyak teman, banyak berkat.
SEBAR = Bubar, dibenci, dimusuhi, difitnah balik.
Tanti, sesenggukan : “Aku benar-benar minta maaf, Dhania. Aku cemburu.”
Dhania, memeluk Tanti: “Aku juga pernah iri sama kamu, Tanti Tapi aku pilih sabar.”
Ms. Indri, tersenyum menunjuk ke langit di luar jendela, ada pelangi: “Lihat! Pelangi itu indah, warnanya beda-beda, tapi tak saling meniadakan. Mereka sabar
terbang berdampingan. indah sekali! Itulah subur.”
“Kalian generasi masa kini: kuatlah dalam sabar, karena sabar adalah senjata paling sunyi, tapi paling subur.”
Sabar itu akar, dalam diam dia merambat,
Menembus sunyi, menyuburkan tanah hati yang keras.
Fitnah itu angin gemerisik, tanpa isi,
Tapi membubarkan awan pertemanan, kawan jadi debu,
Tercerai berai, tanpa pernah bisa utuh kembali,
Jadilah hujan perdamaian, bukan topan prahara angkara.
Footnote:
“Dikembangkan dengan bantuan AI; dimodifikasi oleh penulis untuk tujuan edukasi; lisensi: CC BY-NC 4.0.












