Makna Paskah: Dari Gelap Menuju Terang dalam Iman

banner 468x60

Di teras gereja tua, angin sore berhembus pelan. Dua anak muda, Shinta dan Rama, duduk bersama Romo Cladio.

Rama: “Romo, saya ikut misa Rabu Abu dan mulai puasa. Tapi jujur, saya belum benar-benar paham kenapa semua ini dilakukan. Paskah sendiri sering saya lihat identik dengan telur dan kelinci. Sebenarnya asal-usulnya apa?”

Shinta: “Iya, Romo. Saya juga penasaran. Ada Rabu Abu, Kamis Putih, lalu Jumat Agung yang hening, dan Minggu Paskah yang meriah. Apa makna di balik semua itu?”

Romo Cladio: “Pertanyaan kalian sangat baik. Untuk memahaminya, kita perlu melihat dari dua sisi: sejarah dan iman.”

“Secara historis, Paskah Kristen berkaitan dengan tradisi Yahudi yang disebut Pesach atau Passover. Dalam tradisi itu, bangsa Israel mengenang pembebasan mereka dari Mesir. Kisah tentang darah domba yang dioleskan di pintu rumah berasal dari Kitab Keluaran, dan dalam iman Yahudi itu adalah tanda perlindungan Tuhan.”

Shinta: “Jadi itu dasar sejarahnya?”

Romo Cladio: “Ya, dalam tradisi keagamaan, kita memahaminya sebagai bagian tradisi iman yang penting.”

“Dalam Kekristenan, makna itu berkembang. Yesus Kristus dipahami sebagai ‘Anak Domba Allah’, simbol pengorbanan yang membawa keselamatan. Itu adalah penafsiran teologis yang muncul dalam teks-teks Injil.”

Rama: “Kalau begitu, kenapa ada puasa 40 hari sebelum Paskah?”

Romo Cladio: “Masa itu disebut Prapaskah. Angka 40 diambil dari berbagai simbol dalam Alkitab—seperti puasa Yesus di padang gurun dan perjalanan panjang bangsa Israel. Namun praktik puasa 40 hari seperti sekarang adalah hasil perkembangan tradisi Gereja sejak abad-abad awal.”

“Dan intinya bukan sekadar menahan makan, tapi latihan mengendalikan diri dan refleksi batin.”

Shinta:
“Lalu Kamis Putih itu apa maknanya?”

Romo Cladio:
“Itu peringatan Perjamuan Terakhir. Dalam tradisi Kristen, malam itu Yesus makan bersama murid-murid-Nya dan melakukan pembasuhan kaki sebagai simbol kerendahan hati. Dari sinilah muncul praktik Ekaristi dalam Gereja.”

“Namun perlu diingat, istilah ‘Kamis Putih’ sendiri adalah istilah liturgis yang berkembang kemudian, bukan istilah langsung dari teks Alkitab.”

Rama:
“Dan Jumat Agung? Kenapa disebut ‘Agung’?”

Romo Cladio:
“Dalam iman Kristen, itu adalah hari wafat Yesus di salib. Disebut ‘Agung’ karena dipahami sebagai puncak pengorbanan kasih. Dalam Injil juga diceritakan bahwa tabir Bait Allah terbelah, yang dimaknai sebagai simbol terbukanya hubungan manusia dengan Tuhan.”

Shinta: “Bagaimana dengan kebangkitan di hari Paskah?”

Romo Cladio: “Secara historis Yesus memang disalibkan. Kebangkitan-Nya adalah keyakinan iman umat Kristen. Dalam Injil diceritakan bahwa makam kosong dan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Bagi umat beriman, itulah inti Paskah: harapan bahwa kehidupan mengalahkan kematian.”

Rama:
“Kalau telur dan kelinci itu dari mana?”

Romo Cladio: “Itu berasal dari tradisi Eropa, simbol kesuburan dan kehidupan baru saat musim semi. Bukan bagian ajaran Kristen awal.”

Romo Cladio melanjutkan: “Ada perbedaan tradisi antara umat Katolik, Protestan, dan Ortodoks. Walau sama-sama merayakan Paskah, ada beberapa perbedaan di antara mereka.”

▪   “Katolik: Menekankan liturgi yang terstruktur (Rabu Abu, Prapaskah, Kamis Putih, Jumat Agung, Vigili Paskah), Ekaristi menjadi pusat ibadah,  sangat kaya tradisi dan simbol.”
▪   “Protestan: Lebih beragam (karena banyak denominasi), Fokus pada Alkitab dan iman pribadi, Tidak semua gereja menjalankan ritual lengkap seperti Katolik, beberapa tetap merayakan Jumat Agung dan Paskah, tetapi dengan bentuk lebih sederhana.”
▪   “Ortodoks: Liturgi sangat kuno dan simbolis, Menggunakan kalender berbeda, sehingga tanggal Paskah sering tidak sama, perayaan Vigili Paskah sangat panjang dan penuh simbol cahaya (lilin, api suci), Penekanan kuat pada misteri kebangkitan

Shinta: “Jadi walaupun mereka berbeda-beda, intinya sama, ya?”

Romo Cladio: “Benar. Intinya adalah refleksi tentang penderitaan, pengorbanan, dan harapan akan kehidupan baru”

Angin sore kembali berhembus. Suasana hening sejenak.

Rama: “Sekarang saya lebih paham. Ini bukan sekadar ritual, tapi perjalanan makna.”

Shinta: “Saya juga. Rasanya lebih dalam ketika tahu konteksnya.”

Romo Cladio: “Dan itulah tujuan utamanya: bukan sekadar menjalankan tradisi, tapi memahami maknanya. Baik sebagai iman, maupun sebagai bagian dari sejarah manusia.”

Senja perlahan turun, membawa suasana tenang—sebuah pengingat bahwa setelah gelap, selalu ada terang, entah dimaknai secara iman maupun sebagai harapan universal manusia.

 

 



Footnote:
“Dikembangkan dengan bantuan AI; dimodifikasi oleh penulis untuk tujuan edukasi; lisensi: CC BY-NC 4.0.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60