Wejangan Hidup:
Benih Korupsi: Hidup Sekali, Jangan Sampai Sambat Bolak-Balik

banner 468x60

Di tepi lapangan padel, Ms. Indriyani duduk di bangku kayu. Di depannya, Dhania, Tanti, dan Lukito, masih mengatur napas, raket masih erat di genggaman.

Ms. Indri tersenyum: “Kalian tahu? Banyak orang bertaruh dengan hidupnya. Mereka berdalih ‘hidup cuma sekali’ untuk meraup apa saja yang bisa diambil. Namun, saat badai resiko datang, mereka sambatnya tak ketulungan.”

Dhania, matanya penuh tanya. “Maksudnya? Mereka ambil jalan pintas?”

Ms Indri mengangguk :
“一念贪心起,百万障门开”
“Yī niàn tān xīn qǐ, bǎi wàn zhàng mén kāi”

“Sekali muncul niat tak jujur, terbukalah ribuan pintu bencana. Dari satu benih korupsi, mengalirlah berbagai macam masalah yang silih berganti.”

“Bayangkan,” Ms. Indriyani memulai dengan suara rendah,  “Ada orang menyodorkan amplop kecil padamu, berbisik, ‘Ini sekadar tanda terima kasih. Hidup cuma sekali, terimalah.’”

Tanti mendekat, menyimak: “Lalu, kalau diterima?”

Ms Indri : “Hanya sekali saja, takkan ada yang tahu.’ Itu benihnya, Tanti. Esoknya, amplop datang lagi, lebih tebal. Lalu datang tawaran proyek, lalu kolusi, akhirnya kamu terjebak dalam jaringan yang kamu buat sendiri.”

“Jadi, begitulah korupsi bermula?” tanya Lukito lirih.

“Korupsi tak bicara angka miliaran,” Ms. Indri menatap mereka. “Ia berawal dari satu niat untuk tak jujur. Dan sekali niat tak jujur itu muncul, satu per satu pintu bencana akan terbuka lebar.”

“Bencana apa, Ms?” tanya Dhania.

“Bencana paling sunyi adalah hilangnya kedamaian diri.” Tiap malam terjaga, was-was. Ia mulai menenun kebohongan untuk menutup kebohongan sebelumnya. Dan saat semuanya runtuh, ia hanya bisa sambat: menyalahkan nasib, mohon ampun. Sayang, jejak hitam tak bisa dihapus hanya dengan keluhan.”

Lukito tegang: “Ms, bukankah di sekolah kita selalu diingatkan tentang Rotary Four-Way Test?”

Ms. Indri mengangguk bangga: “Coba kita uji penerimaan amplop tadi dengan Four-Way Test, Lukito!”

Lukito merapal mantap:
▪   “Pertama, apakah itu benar?
▪   Kedua, apakah itu adil bagi semua pihak?
▪   Ketiga, apakah itu membangun niat baik dan persahabatan?
▪   Keempat, apakah itu bermanfaatkah bagi semua pihak?”

Ms. Indri menanggapi. “Jika kamu pakai Four-Way Test untuk menguji, kamu akan tahu bahwa amplop itu racun. Hidup sekali bukan alasan untuk curi waktu atau hak orang lain. Justru karena hidup hanya sekali, kita harus menjaga agar hidup tetap bersih, murni.”

Tanti, merenung, bertanya pelan: “Ms, adakah tuntunan spiritual yang bisa menguatkan kami?”

Ms. Indri tersenyum: ‘Harta yang diperoleh dengan kecurangan tak berguna, tapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut.’ Harta itu mungkin terlihat berkilau, tapi ia hampa dari kedamaian. ( Amsal 10:2 )”

Lukito pun menjawab cepat : “Ya, ‘Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil.’ ( Al-Baqarah ayat 188 )”

“Korupsi adalah jalan batil yang merampas hak orang lain. Tak ada yang tersembunyi di mata Sang Pencipta. Apa yang ditanam dengan kecurangan, akan dipanen dengan kehancuran.”

Dhania, tampak serius : “Ya, Simbah sering pesan, ‘Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.’ Segala kekuatan, kejayaan, angkara murka,  korupsi, hanya bisa dilebur oleh kerendahan hati dan kebijaksanaan.”

“Lalu, apa yang harus kami lakukan jika dunia menggoda kami dengan ‘amplop-amplop’ itu?” tanya Tanti, khawatir.

Ms. Indri bangkit, mengambil raket, memukul bola ke dinding. Katanya: “Seperti bola tadi, kembalikan! Katakan ‘tidak’ tegas. Biar kau dianggap aneh, atau sok suci. Tapi percayalah,… saat malam tiba, kau akan memperoleh kemewahan yang tak bisa dibeli dengan uang semilyard hasil korupsi: hati damai, bobo nyenyak.

“Hati tenang karena tak ada yang perlu disembunyikan. Hidup sekali itu bukan tentang memiliki segalanya, tapi tentang tidak kehilangan diri sendiri.”

Dhania tersenyum lebar: “Daripada tampak sukses tapi sambat bolak-balik, lebih baik jujur walau sederhana tapi penuh rasa syukur dan damai.”

“Itulah kemenangan sejati,” pungkas Ms. Indri.

Ketiga siswa itu berdiri, membereskan perlengkapan mereka dengan semangat baru.

Ms. Indri memandangi mereka, berbisik dalam doa: “Semoga benih integritas yang kita semai sore ini, tumbuh jadi pohon jati yang kokoh, tak tergoyahkan oleh angin keserakahan.”

 

Bacaan Lainnya
banner 300x250

 


Footnote:
“Dikembangkan dengan bantuan AI; dimodifikasi oleh penulis untuk tujuan edukasi; lisensi: CC BY-NC 4.0.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60