Wejangan Hidup:
Jika kita menyimpan sakit hati

banner 468x60

Di aula  Mutiara Persada International School, layar LCD masih bersih, tapi wajah-wajah siswa tampak penuh pertanyaan yang belum terjawab. Ms Indriyani sedang tekun menyiapkan tabletnya.

Ms. Indri, menampilkan gambar di LCD: “Coba baca dan artikan!’
“人若报仇,先掘二墓
Rén ruò bàochóu, xiān jué èr mù
Jika kita ingin membalas dendam, kita harus menggali dua kuburan.”

Tanti :”Apa itu, kok ngeri?”
Dhania, pelan : “Kalau kita balas dendam… berarti kita juga ikut hancur?”

Ms. Indri, tersenyum tipis: “Ya. Dendam itu seperti api. Kita arahkan ke orang lain… tapi diam-diam api itu juga membakar hati kita sendiri.”

Tanti, sedikit emosi : “Tapi Ms… kalau kita disakiti, masa diam aja?”

Ms. Indri: “Diam bukan berarti lemah. Itu pengendalian diri yang justru butuh kekuatan besar. Kita gunakan kebijaksanaan kita dengan melihat ke dalam diri sendiri sebelum bereaksi keluar.”

Lukito: “Jadi… dendam itu sebenarnya racun ya?”

Ms. Indri: “Betul. Racun yang kita minum sendiri, tapi berharap orang lain yang mati.”

Suasana hening, kalimat itu mengetuk kesadaran mereka.

Ms. Indri kemudian menampilkan di layar LCD:
▪   Itu benar?
▪   Itu adil bagi semuanya?
▪   Itu bersahabat?
▪   Itu bermanfaat bagi semuanya?

Ms. Indri: “Bayangkan… jika kita menyimpan dendam. Apakah dendam itu benar?”

Dhania: “Tak sepenuhnya… karena sering dibesar-besarkan.”

“Apakah adil?”

Tanti: “Tidak. Kita cuma lihat dari sisi kita sendiri.”

“Apakah membangun persahabatan?”

Lukito, tersenyum pahit: “Jelas tidak. Malah merusak semuanya.”

“Apakah bermanfaat?”

Semua diam!

Ms. Indri: “Dendam itu gagal di ke empat pertanyaan itu. Artinya… dendam bukan jalan yang bijak.”

“Banyak ajaran besar mengingatkan kita: ‘Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tapi berilah tempat kepada murka Allah.’ ( Roma 12:19 )”

“Juga, ‘Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.'( QS. Asy-Syura: 40 )”

Ms. Indri, melanjutkan: “Keduanya tak melarang keadilan … tapi mengajak kita naik lebih tinggi: memaafkan.”

“Sing sapa nandur bakal ngundhuh. (Siapa menanam, akan menuai.)”

“Kalau kita menanam dendam, yang kita panen juga luka.”

Tanti, suaranya bergetar:  “Bu… saya masih marah sama teman saya. Dia pernah mempermalukan saya di depan kelas.”

Ms. Indri: “Dan sejak itu?”

Tanti: “Saya jadi sering kepikiran… bahkan sulit tidur.”

Ms. Indri: “Itulah kuburan pertama… diri sendiri.”

Tanti terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.

Dhania: “Kalau kita maafkan… apa sakitnya hilang?”

Ms. Indri: “Mungkin tak langsung hilang. Tapi pelan-pelan … luka berubah jadi pelajaran. Dan hati jadi lebih ringan.”

“Contohnya! Ada teman menyebar gosip tentangmu. Pilihannya dua:
▪   Membalas dengan gosip yang lebih buruk.
▪   Menghadapinya dengan tenang, klarifikasi, dan tetap berbuat baik. “

“Pilihan kedua mungkin terasa berat… tapi itu menyelamatkan dua ‘kuburan’: dari dirimu dan hubunganmu dengan orang lain.”

Ms. Indri, melanjutkan lembut : “Anak-anak… hidup ini terlalu singkat untuk diisi dendam. Hati kita bukan tempat sampah untuk luka, tapi taman bunga untuk kebaikan.”

Lukito: “Jadi… memaafkan itu bukan untuk orang lain saja ya, Ms?”

Ms. Indri: “Benar. Memaafkan adalah cara kita menyelamatkan diri sendiri.”

Angin pagi silir semilir sejuk, membawa yang baru: ringan, lapang, lega, penuh harapan.

Dhania, tersenyum: “Hari ini saya mau mulai menggali satu kuburan saja.”

Ms. Indri: “Bagus! Bukan untuk mengubur orang lain… tapi untuk mengubur dendam.”

Serempak : “Amiennnnnn!”

 

Bacaan Lainnya
banner 300x250

 


Footnote:
“Dikembangkan dengan bantuan AI; dimodifikasi oleh penulis untuk tujuan edukasi; lisensi: CC BY-NC 4.0.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60