Di ruang guru SMA Mutiara Persada, Mr Kostaman duduk tenang, memegang secangkir kopi panas, menemui Ms Lovanca dan Mr Slamet yang tampak gelisah.
Di meja tergeletak koran nasional dengan berita utama: “Kasus Suap Perizinan, Birokrat dan Pengusaha Jadi Tersangka.”
Ms Lovanca berkata rendah: “Mr Kho, saya kok lelah. Di sini kita sibuk mengajar moral, di luar sana, oknum pejabat dan pengusaha tak jujur berkeliaran di semua level. Siswa kami pernah bertanya, ‘Ms Lovan, kenapa kita diajar untuk jujur, padahal yang di atas sana bebas berbuat curang?’”
“Saya tiap hari seperti koar-koar di gurun Sahara.”
Mr Slamet mengamini, berkata: “Iya. Hukum bisa diatur, audit bisa dibeli. Saya khawatir, siswa kita yang pintar justru berpikir, ‘Bersih itu merugikan.’ Lalu, bagaimana nasib mereka yang ingin berinvestasi dengan jujur?”
Mr Kostaman menatap tajam.: “Ini Krisis Keteladanan. Kalau kepalanya bengkok, bagaimana bawahnya bisa lurus?”
“Ini juga tentang Institusi yang lemah. Kalau wasit mudah disuap, pemain jujur akan milih keluar lapangan. Dan paling parah…tampaknya pendidikan kita gagal membentuk karakter.”
“Character Building gagal, ya?” tanya Mr Slamet.
Mr Kostaman menjawab lirih: “Kita selama ini hanya mengajar slogan hafalan. Bukan cara berpikir. Kita isi botol dengan air, tapi lupa menyiapkan botol supaya tak pecah saat dilempar ke laut.”
“Guru yang hanya mentransfer ilmu tanpa membangun karakter, hanya akan melahirkan generasi yang pintar otaknya, tapi tumpul hatinya. Mereka bisa memahami resiko korupsi, tapi tak punya keberanian menolak.”
Mr Kostaman melanjutkan dengan nada lebih tegas: “Kita, guru, harus paham bagaimana orang melakukan pilihan untuk bertindak. Ada dua gate: Kognitif dan Afektif.”
▪ Kognitif: Orang bisa berpikir, ‘Apakah ini benar? Apa konsekuensinya?’ Di sini kita akan gagal jika hanya mengajar hafalan: JANGAN MENCURI. Siswa harus diajak berpikir kritis: ‘Jika saya tak jujur, bagaimana integritas saya akan runtuh? Apa dampaknya pada orang lain? Pada orang kecil?’
▪ Afektif, Merasakan dan Menghayati: Setelah paham, bangun perasaan. ‘Apakah saya tak merasa malu mencuri? berbohong? Apakah hati saya akan damai jika mengambil hak orang lain?’
“Di sinilah keteladanan berperan!”
“Anak takkan pernah merasakan kejujuran jika ia tak pernah melihat gurunya sendiri jujur menghadapi tantangan. Ia tak akan membangun integritas dirinya bila gurunya hanya pintar omon-omon tanpa bukti.”
Ms Lovanca berdiri, berkata tegas: “Jadi, jangan bicara korupsi besar dulu. Kita harus mulai dari kelas kecil kita.”
“Ini ada kasus koreksi ujian. Seorang siswa, anak pejabat, dapat nilai 89. Saat dikoreksi ulang, ternyata ada poin yang tak terhitung, dan nilai sebenarnya harusnya 83, dan nilai akhir turun peringkat. Apa tindakan kita?”
“Ada dua opsi:
▪ Opsi A, tutup Mata: “Biarlah, kan bapaknya pejabat. Lagipula, salah saya yang tak teliti koreksi. Biarkan saja 89.”
▪ Opsi B, jujur konsekuen: Panggil siswa, akui kesalahan guru, dan ubah nilainya jadi 83, meski dengan resiko menghadapi kemarahan orang tuanya.”
Mr Kostaman tersenyum, bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan?”
Ms Lovanca tegas berkata: “Saya pilih B. Kejujuran adalah bentuk kasih. Kita mengasihi siswa bukan dengan memberi nilai palsu, tapi dengan membentuk karakter yang baik”
“Sebab barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barang siapa tak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tak benar juga dalam perkara-perkara besar.” ( Lukas 16:10 )
Tegas Ms Lovanca lagi: “Jika kita tak setia dalam perkara kecil seperti koreksi nilai, gimana kita bisa mengajarkan mereka untuk setia melawan korupsi?”
Mr Slamet tersenyum, menimpali: “Benar, Ms Lovan.”
“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (jujur). Q.S. Al-Ahzab (33:70)”
“Kata-kata yang benar itu kadang sulit, tapi itulah inti ketakwaan. Sebagai guru, ketakwaan kita sedang diuji di sini.”
Mr Kostaman tersenyum bangga. “Nah, kalian sudah menjawab dengan hati.”
“Ingat ini:
‘一朝被蛇咬,十年怕井绳
Yī zhāo bèi shé yǎo, shí nián pà jǐng shéng
Sekali digigit ular, sepuluh tahun takut melihat tali timba.’”
“Kebohongan dan ketidakadilan akan menciptakan trauma dan ketakutan berkepanjangan di masyarakat.”
“Jika siswa kita melihat guru tak jujur dalam menilai, mereka akan trauma dan tak percaya lagi pada sistem pendidikan.”
“Dan Jika investor melihat hukum negara kita mudah diatur, mereka akan takut berinvestasi di negara kita selamanya.”
“Lalu, gimana kearifan lokal kita, Mr Kho?” tanya Ms Lovanca.
Mr Kostaman mengambil napas: “Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”
“Milikilah kemauan bekerja keras tanpa pamrih, bekerja yang benar dan untuk kebenaran.”
“Inilah yang harus setiap guru praktikkan.”
“Dalam kasus nilai tadi, mengubah nilai adalah rame ing gawe, melakukan kerja. Mengabaikan risiko orang tua marah adalah sepi ing pamrih, tanpa pamrih, tak takut.”
“Hanya dengan sikap ini, institusi akan kuat. Pendidikan Kharakter akan berjalan efektif.”
Mr Slamet merenung sejenak: “inti utama adalah menguji apakah pilihan tindakan kita etis atau tidak!”
“Tepat,” jawab Pak Kostaman.
“Di Rotary ada alat uji nurani sederhana tapi ampuh: The Four-Way Test.”
“Sebelum bicara, bertindak, bahkan sebelum berfikir, kita wajib tanya ke hati nurani kita:
▪ Is it the TRUTH? Apakah ini BENAR? Apakah nilai 89 itu benar? Tidak! Yang benar adalah 83.
▪ Is it FAIR to all concerned? Apakah ini ADIL untuk semua orang? Apakah adil bagi siswa lain jika satu siswa dapat nilai tambahan gratis? Tidak. Tidak adil
▪ Will it build GOODWILL and BETTER FRIENDSHIPS? Apakah ini akan membangun ITIKAD BAIK? Tidak. Memberi nilai palsu hanya membangun hubungan di atas kebohongan yang rapuh. Kejujuran, meski pahit di awal, akan membangun rasa hormat jangka panjang atas INTEGRITAS guru.
▪ Will it be BENEFICIAL to all concerned? Apakah akan BERMANFAAT bagi semua? Dengan mengajarkan konsekuensi kejujuran hari ini, kita menyelamatkan bangsa dari krisis keteladanan di masa depan. Itulah manfaat terbesar.”
Spontan, Mr Slamet berdiri, matanya berkaca-kaca: “Saya mengerti! Krisis keteladanan ini harus di lawan berawal dari guru.”
“Dari cara kita mengembalikan uang kembalian di kantin, dari cara kita memberi nilai siswa, dari cara kita memperlakukan karyawan lain di sekolah.”
Ms Lovanca menambahkan, “Dan kita tak sendiri. Tuhan menyaksikan semuanya, dan ada nilai-nilai luhur dari agama dan budaya yang menyatukan kita.”
Mr Kostaman mengangguk.
Sore itu, mereka berjanji dalam hati: Jadilah pohon mangga yang berbuah manis, meski tanah sekitarnya mengering.
Mereka percaya, satu teladan kejujuran hari ini, bisa menyelamatkan seribu generasi di masa depan.
Keteladanan di Tepi Jurang: Krisis Integritas & Peran Guru











