“Satu gambar bicara seribu kata, tapi satu percakapan tulus dapat menerangi seribu jiwa.”
Indah: “Eyang, tadi temen saya bilang Imlek itu murni ritual agama. Saya bantah ini tradisi budaya. Sebenarnya garis batasnya di mana?”
Eyang Sutinah, tersenyum: “Gini lho, Imlek itu ibarat pohon besar. Akarnya adalah tradisi agraris, batangnya adalah sejarah dinasti, dan rantingnya dihiasi oleh berbagai keyakinan: Konghucu, Tao, Buddha. Di Tiongkok dan diaspora, Imlek dirayakan oleh penganut Konghucu, Tao, Buddha, bahkan Islam dan Kristen Tionghoa. Jadi, Imlek itu budaya, bukan teologi agama.”
Bawono: “Kalau akarnya tradisi agraris, berarti bukan soal dewa ya? Imlek bukan ritual agama tertentu.”
Eyang Sutinah: “Benar. Imlek bukan ritual teologis tunggal, ia adalah festival budaya berbasis kalender lunisolar yang kemudian diadopsi lintas sistem kepercayaan: festival budaya dengan ekspresi religius opsional, bukan hari raya teologi eksklusif.”
“Sejarahnya berawal dari:
▪ Dinasti Shang (1600-1046 SM): Tiga ribu tahun lalu, petani di lembah Sungai Kuning melakukan upacara syukur tiap akhir musim dingin. Mereka selamatan karena berhasil ‘bertahan hidup’ dari cuaca ekstrem.
▪ Dinasti Han (202 SM – 220 M): Di era ini tanggalnya ditetapkan resmi lewat Kalender Lunar yang kita pakai sekarang. Ini jadi perayaan menyambut Musim Semi (Chun Jie): simbol harapan baru saat bunga mulai mekar.”
Linda: “Tapi, kenapa harus merah dan berisik petasan?”
Eyang Sutinah: “Merah itu simbol api, energi maskulin (Yang), dan keberuntungan. Konon dulu ada monster ‘Nian (年)’ yang tiap malam tahun baru, keluar memangsa apa saja. Tapi Nian takut warna merah, api, dan suara gaduh. Makanya muncullah tradisi pasang Chunlian (puisi merah di pintu) dan petasan. Ini simbol mengusir ‘Nian’, atau nasib buruk agar tahun depan bersih dari ‘monster’ kegagalan.”
“Nian adalah mitos budaya atau legenda rakyat. Jadi, Guo Nian adalah kegiatan merayakan Tahun Baru Imlek: ‘Selamat Tahun Baru’. Ini berasal dari legenda monster Nian (年) . Jadi, Guo Nian artinya “berhasil mengalahkan monster Nian” alias selamat memasuki tahun baru. Nilai utamanya adalah mengajarkan makna ‘mengusir kesialan’.
Bawono: “Terus Kue Ranjang Itu makanan untuk apa?”
Eyang Sutinah: “Ooo, itu Kue Keranjang, bukan ranjang, itu Nian Gao (年糕). Namanya mirip “Guo Nian” (年高)
yang berarti “tahun yang semakin tinggi/naik”. Ini simbol harapan agar hidup dan rezeki di tahun yang baru semakin naik (lebih baik dari sebelumnya).”
“Karena Guo Nian (kegiatan) dan Nian Gao (kue) sama-sama mengandung kata “Nian” (tahun) . Orang Indonesia sering menyebut Kue Keranjang sebagai “Kue Nian Gao”, lalu kuping kita mendengar “Nian Gao” dan ingatnya “Guo Nian”. Padahal beda tipis di pengucapan dan beda jauh di arti!”
Indah: “Lalu gimana tradisi ini bisa sampai ke Indonesia dan eksis sampai sekarang?”
Eyang Sutinah: “Sejarahnya, Imlek datang lewat laut, dibawa perantau Tionghwa.”
“Tahun 1967 sampai 1998 (Inpres No. 14/1967), Barongsay disimpan di gudang. Kita merayakan Imlek sembunyi-sembunyi.”
“Tahun 2000, Presiden Gus Dur mencabut larangan itu (Keppres No. 6/2000). Dan tahun 2002, Ibu Megawati meresmikan Imlek jadi hari libur nasional.”
“Imlek bukan ritual agama eksklusif, Imlek adalah festival budaya berbasis agraris, sejarah, dan kosmologi. Dan di Indonesia, Imlek adalah simbol rekonsiliasi dan pluralisme, lambang kemenangan persatuan dalam keberagaman.”
Bawono: “Berarti semua orang boleh ikut merayakan Imlek?”
Eyang Sutinah: “Tentu! Di Bandung tahun 50-an, pedagang dodol dan warga setempat paling semangat kalau Imlek datang. Imlek adalah pesta rakyat.”
“Nilai Imlek universal: Yang muda hormat pada orang tua (lewat sungkem). Sungkeman adalah nilai Konfusian, yang bersifat universal. Dan yang tua berbagi rezeki pada yang muda (lewat Angpao), dan Evaluasi diri. Angpao tak bicara nominal uang, tapi simbol doa restu dan keberuntungan dari yang tua ke yang muda, simbol transmisi doa, keberuntungan, dan tanggung jawab antar generasi.”
Linda: “Wah, Imlek itu kaya lebaran budaya Tionghoa ya: pulang kampung, sungkem orang tua, dan bersyukur.”
Eyang Sutinah, mengangguk mantap: “Tepat. Imlek bernuansa merah, ‘Yang’. Ini bukan simbol doktrin agama, ini simbol kosmologis, semangat pertumbuhan, lambang semangat untuk mulai hidup yang lebih baik.”
“Sini, Eyang sudah siap Angpao buat kalian. Syaratnya: Kalian janji jaga kerukunan, persatuan, apapun ‘iman’ kalian.”
Footnote:
Naskah ini dikembangkan dengan bantuan teknologi AI ( ChatGPT, DeepSeek, Manus, Gemini, Meta AI ), dan kemudian direvisi dan dikontekstualisasikan oleh penulis manusia. Lisensi: CC BY-NC 4.0.












