Mengabdi Tanpa Henti Sejak 1988, Kiprah Kemanusiaan Bie Bie Kencana Salim

banner 468x60

RotaryIndonesia.com – Bagi banyak orang, nama Kencana Salim, yang akrab disapa Pak Bie Bie, bukan sekadar seorang Rotarian. Ia adalah simbol ketekunan, keberanian, dan keyakinan bahwa pelayanan kemanusiaan tidak pernah sia-sia.

Sejak awal berdirinya Rotary Club Medan Deli pada 11 April 1988, Pak Bie Bie telah bergabung bersama Alm. Pada Mulia Lubis sebagai bagian dari perintis. Ia tidak datang ketika organisasi sudah mapan. Ia hadir ketika semuanya masih dirintis dari nol.

Dalam perjalanan panjangnya, ada masa ketika kas organisasi benar-benar Rp 0. Tidak ada dana. Tidak ada cadangan.

Ujian besar itu datang saat tragedi 2004 Indian Ocean earthquake and tsunami melanda Aceh. Ribuan korban membutuhkan pertolongan. Secara logika, kondisi kas kosong seharusnya menjadi alasan untuk menunggu.

Namun Pak Bie Bie memilih untuk percaya.

Ia meyakini bahwa bila niatnya sungguh untuk menyelamatkan nyawa, Tuhan pasti membuka jalan. Dengan keberanian itu, Rotary tetap bergerak. Korban tsunami dibawa berobat ke Gleneagles Hospital Medan. Dan benar, pertolongan datang satu demi satu. Donatur mulai percaya. Dukungan mengalir.

Dari keyakinan seorang pemimpin, lahir harapan bagi banyak orang.

Fokus utama Pak Bie Bie adalah pasien jantung, terutama anak-anak. Baginya, menyelamatkan satu anak berarti menyelamatkan masa depan.

Melalui jejaring Rotary internasional, pasien-pasien dikirim berobat ke Penang, India, Kuala Lumpur, Singapura, Taiwan, hingga Hong Kong. Banyak di antara mereka yang sebelumnya tidak memiliki harapan secara finansial.

Di bidang kesehatan mata, melalui klinik Rotary di Kota Bangun, setiap tahun didatangkan dokter dari India untuk melakukan operasi katarak bagi masyarakat kurang mampu. Semua dilakukan dengan satu tujuan: menghadirkan terang kembali dalam kehidupan mereka.

Saat menjabat sebagai President pada tahun 2010 (dan dikenal sebagai pemegang Rekor MURI 2008 atas dedikasi kemanusiaannya), Pak Bie Bie memperluas pelayanan dengan mendirikan klinik pertama di Sei Mati.

Klinik Rotary kemudian berkembang ke:
• Kota Bangun
• Medan Sunggal
• Taman Bodhi Asri
• Percut Sei Tuan
• Medan Johor
• Perguruan
• Kampung Anggrung

Setiap klinik adalah wujud nyata dari komitmen beliau bahwa kesehatan bukanlah hak bagi yang mampu saja.

Tidak berhenti pada pelayanan medis, Pak Bie Bie juga membangun wisma lansia yang dikenal sebagai Yayasan Taman Bodhi Asri.

Di tempat ini, lebih dari 50% penghuninya merupakan sosial — tidak dipungut biaya. Mereka yang terlantar menemukan tempat tinggal yang layak, perawatan, dan kasih sayang.

Bagi Pak Bie Bie, merawat lansia bukan sekadar program sosial. Itu adalah bentuk penghormatan kepada generasi yang telah lebih dahulu berjuang.

Di kawasan Taman Bodhi Asri, beliau juga membangun miniatur Candi Borobudur. Miniatur ini menjadi simbol pelestarian budaya dan nilai spiritual.

Ia ingin agar pelayanan kemanusiaan berjalan seiring dengan pelestarian warisan luhur bangsa.

Dari Nol Menjadi Berkat

Perjalanan Pak Bie Bie adalah kisah tentang iman dalam tindakan. Tentang keberanian melangkah ketika tidak ada jaminan. Tentang keyakinan bahwa pelayanan tulus tidak akan pernah ditinggalkan.

Dari kas nol rupiah, beliau membuktikan bahwa yang terpenting bukanlah apa yang dimiliki, melainkan apa yang berani dilakukan.

Hingga hari ini, semangatnya tetap sama seperti pada 11 April 1988:
melayani dengan hati, tanpa menghitung untung rugi.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60