Seluk Beluk Kanker Payudara: Gejala, Penyebab, Jenis, Pencegahan, dan Pengobatan Lengkap

banner 468x60

Di kafe Mirasa, Dr Sari, Maya, Andi, dan Dani, duduk berkeliling. Di tangan Maya ada kertas hasil pemeriksaan dokter, wajahnya pucat.

Maya, bergetar: “Friends, menurut hasil lab, ada benjolan di payudaraku. Dokter bilang, kemungkinan kanker.

Andi, kaget: “Astaga… Are you serius?”

Dani, cepat: “Jangan panik. Kita cari informasi. Siapa tahu cuma tumor jinak.”

Dr Sari: “Ya. Tak semua benjolan di payudara itu kanker. Hanya sekitar 15 persen benjolan bisa berkembang jadi kanker. Kita perlu pahami apa itu kanker payudara?”

Andi: “Setuju. Daripada nebak-nebak, better cari tahu lengkap. Biar Maya juga ga takut berlebihan.”

Maya: “Jadi, apa sebenarnya kanker payudara itu?”

Dr Sari: “Gini. Kanker payudara terjadi saat sel-sel abnormal tumbuh di luar kendali di satu atau kedua payudara. Sel-sel ini bisa menyebar, istilah medisnya metastasis, ke jaringan sekitarnya, membentuk tumor . Sel-sel ini bisa menyebar di dalam payudara, ke kelenjar getah bening terdekat, dan bagian tubuh lain.”

Dani: “Jadi beda sama tumor biasa?”

Dr Sari: “Beda. Tumor jinak, pertumbuhannya lambat. Saat diraba, terasa lebih lunak dan bisa bergeser kalau ditekan. Sementara kanker, sel-selnya tumbuh cepat, dalam 8 – 200 hari, sel-sel kanker bisa membelah dengan sangat cepat. Ketika diraba, benjolan kanker terasa padat dan keras. Bahkan dokter bilang, rasanya seperti meraba tulang.”

Andi: “Oh gitu… terus kenapa sel-sel itu bisa tumbuh ga normal?”

Maya: “Iya, apa penyebabnya?”

Dr Sari: “Dokter belum tahu persis penyebab pastinya. Yang jelas, kanker payudara berkembang ketika sel-sel payudara mulai tumbuh di luar kendali dan membelah diri dengan cepat, menyebar lebih cepat dibanding sel sehat dan terus menumpuk, membentuk benjolan atau massa.”

Dani: “Apa faktor risikonya?”

Dr Sari:”Yang utama, adalah:
▪   Usia: Resiko meningkat seiring bertambahnya usia .
▪   Jenis kelamin: 1 dari 8 perempuan didiagnosis kanker payudara sebelum usia 75. Kanker payudara pada pria itu langka.
▪   Riwayat kesehatan: Punya kepadatan payudara tinggi, atau pernah punya penyakit payudara yang bukan kanker sebelumnya.
▪   Riwayat keluarga: Ada keluarga yang pernah kena kanker payudara .
▪   Ras: Orang kulit putih punya risiko lebih tinggi dibanding kulit hitam, Hispanik, atau Asia .
▪   Radiasi: Pernah terpapar radiasi dalam jumlah besar saat muda.
▪   Tak menyusui: Perempuan yang tak menyusui punya risiko lebih tinggi dibanding yang menyusui
▪   Alkohol: Risiko meningkat seiring banyaknya alkohol yang dikonsumsi .
▪   Hormon: Hormon perempuan berperan dalam beberapa jenis kanker payudara .

Andi: “Wah, banyak juga. Kalau genetik?

Dr Sari: “Sekitar 5 – 10 persen kanker payudara bersifat herediter, diturunkan dalam keluarga . Yang paling dikenal adalah mutasi gen BRCA1 dan BRCA2. Gen ini sebenarnya membantu mengendalikan pertumbuhan sel. Tapi kalau terjadi mutasi yang diwariskan, risikonya jadi jauh lebih tinggi.”

Dani: “Jadi, kalau di keluarga ada riwayat, harus waspada sejak awal ya.”

Sari: “Iya. Ingat, kebanyakan perempuan yang kena kanker payudara justru tak punya riwayat keluarga. Jadi semua tetap harus waspada.”

Andi: “Kanker ada berapa jenis?

Dr Sari: “Jenisnya:
▪   Paling umum: karsinoma duktal, kanker yang dimulai dari saluran susu di payudara .
▪   Kedua: karsinoma lobular, yang dimulai dari kelenjar penghasil susu .
▪   Ketiga, campuran keduanya.”

Maya: “Terus, yang disebut non-invasif itu apa?”

Dr Sari: “Ketika sel-sel abnormal di saluran atau lobus belum menyebar, disebut non-invasif atau “in situ”, tda:
▪   Duktal karsinoma in situ (DCIS): Pra-kanker yang bisa berkembang jadi kanker payudara. Sel abnormal hanya ada di saluran payudara .
▪   Lobular karsinoma in situ (LCIS): Karena sel LCIS tidak menyebar, ini tak dianggap kanker. Tapi punya LCIS meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara di kemudian hari.”

Dani: “Kalau yang invasif?”

Dr Sari: “Karsinoma duktal invasif adalah yang paling umum, sekitar 70% tumor . Sekitar 15-20 persen tumor adalah karsinoma lobular invasif . Ada juga jenis yang kurang umum seperti kanker payudara inflamasi dan kanker payudara pada pria.”

Andi: “Pria bisa kena juga?”

Dr Sari: “ya, walau langka, hanya sekitar 1% dari semua kanker payudara . Di USA, tahun 2025, diperkirakan 2.800 pria dari total 319.750 kasus kanker payudara. Tapi kurangnya kesadaran bahwa pria bisa kena membuat mereka sering terdiagnosis pada usia lebih tua dan stadium lebih lanjut. Lebih dari 40 persen pria didiagnosis stadium III atau IV.”

Dani: “Apa bedanya dengan kanker payudara pada wanita?”

Dr Sari: “Secara etiologi, diagnosis, dan perawatan, mirip . Tapi pada pria, biasanya muncul sebagai benjolan tanpa rasa sakit di area belakang puting. 75 persen kasus, benjolannya keras dan terfiksasi di daerah subareolar, dengan keterlibatan puting lebih umum daripada pada wanita.”

Maya: “Jadi pria juga harus periksa payudara?”

Sari: “Idealnya iya, terutama jika ada riwayat keluarga atau faktor risiko seperti sindrom Klinefelter, sirosis, atau obesitas . Pria dengan mutasi BRCA2 punya risiko 80 kali lipat lebih tinggi dibanding pria pada umumnya.”

Andi: “Oh ya, aku denger deodoran bisa sebabkan kanker payudara?”

Dr Sari, tertawa: “Itu mitos! Menurut American Cancer Society, tak ada studi kuat atau bukti ilmiah yang menghubungkan penggunaan antiperspiran dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi.”

Dani: “Bagaimana penempatan handphone di bra?”

Dr Sari: “Juga mitos. Menurut National Cancer Institute, studi menunjukkan bahwa ponsel dan microwave tak meningkatkan risiko kanker payudara, bahkan jika kamu sering menyimpan ponsel di bra atau saku baju.”

Andi: “Bagaimana Implan payudara?”

Dr Sari: “Implan payudara tak meningkatkan risiko kanker payudara. Tapi FDA mencatat ada hubungan antara jenis implan tertentu dengan limfoma sel besar anaplastik, yaitu jenis kanker langka yang mempengaruhi sel darah putih.”

Maya: “Ada yang bilang ‘hanya perempuan dengan riwayat keluarga yang bisa kena’?”

Dr Sari: “Itu mitos besar. Hanya 5-10 persen kanker payudara yang bersifat herediter. Kebanyakan perempuan yang terkena kanker payudara justru tak punya riwayat keluarga.”

Dani: “Berarti kita semua harus waspada ya.”

Dr Sari: “Tepat!”

Andi: “Sebenarnya, penyakit ini udah ada sejak kapan?”

Dr Sari: “Ini menarik. Kanker payudara sudah menemani umat manusia sejak awal peradaban:
▪   “2,3 miliar tahun lalu, zaman Triassic, pada dinosaurus primitif, cynodonts, kelenjar kulit penghasil susu mulai berevolusi. Kelenjar awal ini tak mengeluarkan keringat atau bau, tapi menghasilkan susu sederhana sebagai makanan tambahan bagi anak-anaknya. Seiring waktu, kelenjar ini berkumpul di bawah puting dan mulai bereaksi terhadap hormon seks, seperti estrogen.”
▪   “2500 SM, dokumen medis Mesir Kuno, Papirus Edwin Smith, mencatat kasus kanker payudara pertama. Penulisnya mendeskripsikan ‘tumor membengkak di payudara’ yang besar, keras, dan menyebar. Saat itu tak ada intervensi yang bisa dilakukan. Penulisnya menulis: ‘Tak ada yang bisa dilakukan'”
▪   Sekitar 2200 SM, di Aswan, Mesir, ditemukan kerangka perempuan dengan bukti kanker payudara metastatik, kasus tertua kanker payudara.
▪   Sekitar 1000 M, dokter mulai mengeksplorasi kemungkinan operasi. Di Spanyol Moor, ahli bedah Abu al-Qasim al-Zahrawi menulis bahwa kanker payudara bisa disembuhkan jika diangkat pada tahap awal saat tumor masih kecil. Tapi jika sudah lama dan besar, ia menyarankan untuk tak mengganggunya .
▪   Tahun 1590, ahli bedah Perancis, Barthélémy Cabrol mengusulkan kanker payudara stadium lanjut harus diobati dengan mengangkat payudara beserta otot dada di bawahnya. Praktik ini bertahan selama berabad-abad .
▪   Tahun 1896,Emil Grubbe di Chicago memasang perangkat sinar-X awal. Ia menyinari perempuan, Rose Lee yang menderita kanker payudara. Ini catatan pertama penggunaan radioterapi untuk kanker.
▪   Tahun 1956, Robert Egan mengembangkan mamografi efektif untuk mendeteksi tumor sebelum bisa diraba. Tahun 1970-an, mamografi jadi skrining umum bagi perempuan.
▪   Tahun 1975, penelitian menunjukkan bahwa operasi yang dikombinasikan dengan kemoterapi lebih efektif melawan kanker payudara dibanding operasi saja. Terapi kombinasi jadi standar .
▪   Tahun 1977, tamoksifen, obat penghambat estrogen, disetujui di Amerika untuk kanker payudara metastatik stadium lanjut. Kini tamoksifen jadi salah satu obat hormonal yang paling banyak digunakan .
▪   Tahun 1990, Mary-Claire King dan timnya menemukan gen BRCA1 yang bermutasi terkait peningkatan risiko kanker payudara dan ovarium. Ini mengubah pemahaman tentang pengaruh genetik terhadap kanker. Penelitian lanjutan menemukan BRCA2 .
▪   Tahun 1995, Studi Kesehatan Perawat Amerika mengungkapkan bahwa terapi hormon pengganti (HRT) meningkatkan risiko kanker payudara. Kini HRT tak lagi direkomendasikan secara rutin .
▪   Tahun 2000, Charles Perou melaporkan bahwa kanker payudara bisa diklasifikasikan jadi beberapa subtipe klinis berdasarkan mutasi DNA yang berbeda. Analisis DNA memungkinkan dokter memilih pengobatan yang paling efektif .
▪   Tahun 2002, dua studi menunjukkan operasi pengangkatan tumor kecil yang dikombinasikan dengan radiasi memberikan tingkat kelangsungan hidup yang sama dengan mastektomi radikal .
▪   Tahun 2009, Pedoman skrining berubah. Perempuan disarankan mulai mamografi usia 50 tahun, bukan 40 tahun.
▪   Tahun 2013, Mahkamah Agung Amerika membatalkan paten Myriad Genetics atas gen BRCA1 dan BRCA2, menyatakan bahwa DNA alami bukan produk yang dapat dipatenkan .
▪   Tahun 2015—Tingkat kelangsungan hidup mencapai titik tertinggi. Lebih dari 6 juta penyintas kanker payudara di seluruh dunia masih hidup 5 tahun setelah diagnosis. Kini pengobatan bersifat individual, menggabungkan operasi, kemoterapi, dan radiasi .

Dani: “Wah… panjang sekali perjuangannya.”

Dr Sari: “Iya. Dari masa saat tak ada yang bisa dilakukan, sampai sekarang bisa disembuhkan kalau terdeteksi dini.”

Andi: “Lalu, gejala apa saja yang harus kita waspadai?”

Dr Sari: “Gejala pertama yang paling umum adalah benjolan tanpa rasa sakit di payudara atau ketiak . Tapi kanker payudara stadium awal sering ditemukan pada mamografi sebelum benjolan bisa diraba.”

Gejala lain bisa berupa :
▪   Penebalan di payudara atau ketiak
▪   Perubahan ukuran atau bentuk payudara
▪   Perubahan pada kulit payudara, seperti cekungan atau kulit yang tampak seperti kulit jeruk
▪   Perubahan pada puting, seperti kulit bersisik atau puting yang tertarik ke dalam
▪   Cairan berwarna hijau atau berdarah dari puting
▪   Perubahan warna atau sensasi pada kulit di sekitar puting

Maya: “Kalau ada gejala seperti itu, pasti kanker?”

Dr Sari: “Belum tentu. Bisa jadi kondisi lain. Tapi harus segera diperiksakan dokter.”

Dani: “Terus, bagaimana pencegahannya?”

Dr Sari: “Tak ada cara pasti untuk mencegah kanker payudara . Tapi ada langkah yang bisa menurunkan risiko:
▪   Kenali payudaramu sendiri. Biasakan dengan tampilan dan sensasi payudaramu. Ini akan membantu kamu menyadari perubahan. Segera hubungi dokter jika melihat perubahan.
▪   Lakukan pemeriksaan payudara klinis oleh dokter secara teratur.
▪   Lakukan mamografi rutin. Diskusikan dengan dokter kapan harus mulai dan seberapa sering .
▪   Jaga berat badan sehat. Sel lemak melepaskan estrogen, dan sekitar 70 persen kanker payudara adalah estrogen positif.
▪   Makanlah makanan sehat rendah lemak.
▪   Olahraga setiap hari. Target 150-300 menit olahraga sedang per minggu: jalan cepat, atau 75-150 menit olahraga berat.
▪   Stop merokok jika kamu merokok
▪   Batasi alkohol. Makin banyak alkohol, makin besar risiko. Risiko rendah jika minum 2 gelas atau kurang per minggu.
▪   Susuilah bayimu. Ada bukti menyusui menurunkan risiko kanker payudara, terutama jika menyusui lebih dari 12 bulan atau beberapa anak .

Andi: “Kalau yang punya risiko genetik tinggi, gimana?”

Dr Sari: “Mereka yang punya mutasi gen BRCA punya opsi :
▪   Mulai skrining pada usia lebih muda
▪   Minum obat pencegahan
▪   Operasi pencegahan.”

Maya: “Kalau sudah terasa ada benjolan, proses diagnosisnya gimana?”

Dr Sari: “Tergantung usia dan faktor risiko, dokter mungkin merekomendasikan USG atau mamografi. Mamografi sering bisa menemukan benjolan yang terlalu kecil untuk diraba.”

“Dalam pemeriksaan fisik rutin, dokter bisa memeriksa payudara untuk benjolan atau perubahan. Kamu juga mungkin menemukan benjolan sendiri.”

“Jika ada kecurigaan, dokter akan memeriksa sampel sel, atau biopsi, untuk melihat apakah ada kanker. Hasil biopsi membantu dokter tahu apakah kamu punya kanker dan jenisnya.”

“Mungkin juga ada tes lain untuk mengetahui stadium kanker, cara dokter mendeskripsikan seberapa jauh kanker telah menyebar.”

Dani: “Tes darah juga?”

Dr Sari: “Bisa. Hitung darah lengkap, kimia darah, rontgen dada, dan MRI payudara jika diperlukan.”

Andi: “Lalu, pengobatannya?”

Dr Sari: “Pengobatan kanker payudara didasarkan pada jenis dan stadium kanker, serta kondisi kesehatan secara umum.”
▪   “Pilihan utama operasi. Ada dua jenis operasi: Operasi konservasi payudara (lumpektomi), yaitu dokter mengangkat hanya kanker dan sedikit jaringan normal di sekitarnya. Ini mengurangi risiko kanker kembali sambil menyisakan sebanyak mungkin jaringan payudara, dan Mastektomi : Operasi mengangkat seluruh payudara .
▪   “Terapi radiasi, menggunakan sinar-X untuk membunuh sel kanker.”
▪   “Kemoterapi, obat untuk membunuh sel kanker.”
▪   “Terapi hormon (endokrin), untuk kanker yang sensitif hormon.”
▪   “Terapi target, obat yang menargetkan sel kanker spesifik.”
▪   “Imunoterapi, membantu sistem imun melawan kanker .

Maya: “Operasinya, bisa sebagian atau total?”

Dr Sari: “Bisa. Operasi konservasi payudara hanya mengangkat tumor dan sedikit jaringan sekitarnya . Mastektomi mengangkat seluruh payudara.”

“Bahkan ada mastektomi bilateral, pengangkatan kedua payudara, untuk mencegah kanker invasif pada kasus tertentu.”

Dani: “Berapa besar prosentase keberhasilannya?”

Dr Sari: “Tingkat keberhasilan operasi tergantung stadium saat terdeteksi. Semakin dini, semakin besar peluang sembuh. Itu sebabnya deteksi dini sangat penting.”

Andi: “Kalau pada pria, operasinya beda?”

Dr Sari: “Prinsipnya sama. Mastektomi sederhana tetap menjadi pilihan untuk tumor T1 dan T2 . Namun, operasi konservasi payudara juga bisa dilakukan pada pasien yang dipilih dengan hati-hati, dengan hasil yang setara dengan mastektomi.”

“Yang membedakan, pada pria biasanya tidak dilakukan operasi yang mempertahankan puting karena kosmetik bukan prioritas utama, meskipun jika memungkinkan, hasil kosmetik yang lebih baik bisa dipertimbangkan.”

Dani: “Ada ga obat herbal yang bisa bantu mengecilkan atau mematikan sel kanker?”

Dr Sari, tersenyum: “Penelitian dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta,mengembangkan solusi pengobatan kanker payudara berbahan herbal yang rendah efek samping menggunakan tanaman hias Ketepeng, yang memiliki kandungan flavonoid aktif yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi untuk membantu melawan sel kanker.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60