Sore hari yang tenang di teras Mirasa Bakery, Mama Phei menuangkan teh jahe hangat untuk Meidy dan Miana yang tampak lesu setelah rapat evaluasi komunitas.
Meidy, menghela napas: “Ma, susah banget ya zaman sekarang ngajak orang buat concern ke isu sosial. Di Rotary, kita kayak balapan sama algoritma medsos. Orang lebih milih scrolling daripada meeting buat bikin aksi.”
Miana: “Betul, Ma. Padahal kita butuh tangan tambahan. Tapi responsnya selalu ‘sibuk’lah atau ‘nanti dulu’. Kayak kita jalan di tempat.”
Mama Phei, tersenyum, menyodorkan cangkir teh jahe: “Anak-anak, jangan kecil hati. Mungkin cara kalian mengetuk pintu hati mereka yang perlu sedikit diubah.”
“Ingat!
团结就是力量
Tuánjié jiù shì lìliàng
Bersatu itu kekuatan. Sendiri kita memang lincah, tapi bersama kita baru bisa angkat beban berat.”
Meidy: “Masalahnya, Ma, gimana caranya biar mereka mau ‘bersatu’?”
Mama Phei: “Dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali yang tiga lembar tak mudah diputuskan. ( Pengkhotbah 4:12, TB )”
“Ini menekankan nilai kebersamaan, kerja sama, dan relasi yang saling menguatkan baik dalam persahabatan, keluarga, maupun komunitas; kebersamaan memberi kekuatan dan ketahanan yang lebih besar. Itu prinsip sinergi.”
“Ingat juga: ‘Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan jangan kamu bercerai-berai; dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. ( “Al-Qur’an — Surah Āli ‘Imrān (3): 103 )’
“Kita diingatkan untuk berpegang teguh pada ‘tali’ yang sama dan jangan tercerai-berai.”
“Di Rotary, tali itu adalah ‘tujuan mulia kemanusiaan’ Jadi untuk merekrut anggota baru, jangan tawarkan ‘organisasi’, tapi tawarkan ‘tujuan’.”
Miana: “Jadi fokus ke dampaknya ya? Bukan ke struktur organisasinya? Harus daftar ke RI-lah, harus bayar iuran ke RI-lah, hari absensi-lah, harus hadir ke semua kegiatan Rotary-lah, dan hal-hal lain yang menakutkan.”
Mama Phei: “Tepat. Ingat: ‘Rukun agawe santosa’. Kerukunan dan gotong royong itulah yang menciptakan kekuatan. Selama ini kita sibuk promosi ‘Ayo jadi anggota’, padahal anak muda sekarang butuh sense of belonging dan real impact, bukan sekedar jadi anggota dan repot bayar iuran tanpa makna.’
Meidy: “Ooh, maksud Mama… kita ubah ajakannya?”
Mama Phei: “Iya, Nak. Reframe cara bicara kita. Jangan panggil mereka untuk mengisi kursi kosong, tapi panggil mereka untuk kolaborasi. Jangan pamer foto kalian pakai seragam, tapi tunjukkan video saat kalian berpeluh keringat bantu korban banjir atau mengajar anak-anak. Tunjukkan bahwa di Rotary, ‘Guyub’ itu bukan untuk gosip, jelek-jelekin orang, tapi untuk project.”
Miana, mata berbinar: “Jadi konten medsos kita bukan lagi sekadar pengumuman rapat, tapi narasi tentang The Power of Togetherness. Kita buat mereka merasa: ‘Kalau saya ga ikut, saya rugi ga jadi bagian dari perubahan ini’.”
Mama Phei, mantap: “Jadikan Rotary platform kolaborasi yang inklusif. Ubah Membership Drive menjadi Collaboration Invitation. Orang tak bisa menolak ajakan untuk jadi pahlawan bagi orang lain.”
Meidy, bersemangat: “Setuju! Mulai besok, kita ga lagi ‘cari anggota’, tapi ‘undang rekan kolaborasi’.”
Mama Phei: “Nah, itu baru anak Mama. Kemenangan yang sesungguhnya bukan saat anggota kita ribuan, tapi saat satu masalah sosial selesai karena kita bergerak bersama.”
Guyup Menang!
Footnote:
“Dikembangkan dengan bantuan AI (DeepSeek, ChatGPT, Meta AI, Meta AI, Manus ); dimodifikasi oleh penulis; lisensi: CC BY-NC 4.0.












