Rotary International didirikan 23 Februari 1905 di Chicago, Amerika Serikat, oleh Paul Percy Harris, seorang pengacara.
Ia mengumpulkan beberapa rekan dari profesi yang berbeda-beda untuk membentuk sebuah club yang bertujuan menjalin persahabatan dan jaringan bisnis, antar profesi.
Nama “Rotary” dipilih karena pertemuan awal dilakukan secara bergilir (rotation) di tempat usaha masing-masing anggota.
Organisasi ini kemudian berkembang menjadi jaringan global yang berfokus pada pelayanan kemanusiaan dengan motto “Service above Self” pada yang kemudian berkembang dengan kegiatan pelayanan kemanusiaan, yang fokus pada seven areas of focus, yaitu:
▪ Peacebuilding and Conflict Prevention (Pembangunan Perdamaian dan Pencegahan Konflik)
▪ Disease Prevention and Treatment (Pencegahan dan Pengobatan Penyakit)
▪ Water, Sanitation, and Hygiene (Air, Sanitasi, dan Kebersihan)
▪ Maternal and Child Health (Kesehatan Ibu dan Anak)
▪ Basic Education and Literacy (Pendidikan Dasar dan Literasi)
▪ Community Economic Development (Pengembangan Ekonomi Komunitas)
▪ Supporting the Environment (Mendukung Pelestarian Lingkungan)
Rotary tidak sama dengan Freemasonry.
Rotary adalah organisasi filantropi terbuka yang keanggotaannya berdasarkan undangan bagi para pemimpin profesional dan bisnis…
▪ Keanggotaan Rotary Berdasarkan Undangan: Data dari Rotary International Code of Policies menyatakan bahwa keanggotaan memang bersifat by invitation (undangan) dari anggota yang sudah ada. Ini bertujuan untuk menjaga keberagaman klasifikasi profesional dalam satu klub.
▪ Filantropi Terbuka: Meskipun keanggotaannya selektif, kegiatan dan pertemuan Rotary Club bersifat terbuka untuk publik (kecuali rapat internal tertentu). Rotary juga menerima donasi publik untuk program sosialnya.
▪ Fokus Kemanusiaan: Program PolioPlus, yaitu vaksinasi untuk pemberantasan polio adalah data paling valid yang mendukung pernyataan ini. Rotary telah berkontribusi lebih dari USD 2,600,000,000 dan memvaksinasi 3 miliar anak di seluruh dunia (Data WHO & Rotary Foundation, 2025).
▪ Non-Politik & Non-Religius: Pasal II Konstitusi Rotary Club menyatakan bahwa klub tidak boleh mendukung kandidat politik atau menjadi sekte keagamaan. Fokus utamanya pada proyek kemanusiaan seperti pemberantasan polio, penyediaan air bersih, dan pendidikan. Rotary tidak terikat pada politik atau agama tertentu
Sedangkan Freemasonry adalah organisasi persaudaraan atau fraternity yang bersifat lebih eksklusif…
▪ Fraternity: Istilah fraternity adalah definisi resmi yang digunakan Freemasonry sendiri (“a peculiar system of morality, veiled in allegory and illustrated by symbols”).
▪ Eksklusivitas: Freemasonry memiliki persyaratan kepercayaan pada Supreme Being (Sang Pencipta) dan menggunakan proses balloting (pemungutan suara rahasia) yang sangat ketat untuk menerima anggota. Ritual internalnya (Tyling) tertutup bagi publik (non-Mason), berbeda dengan Rotary yang pertemuannya bisa dihadiri tamu umum.
▪ Simbolisme & Ritual: Freemasonry menggunakan alat kerja tukang batu (palu, jangka, level) sebagai simbol filosofis moral dalam ritual inisiasi yang dikenal sebagai Degree Work. Rotary tidak memiliki ritual inisiasi berbasis simbolisme spiritual semacam itu; serah terima pin Rotary hanya bersifat seremonial sederhana.
Kesimpulannya: Tidak ada korelasi antara Rotary dan Freemasonry. Perbedaan mendasar memang terletak pada tujuan inti: Rotary untuk pelayanan kemanusiaan (service), Freemasonry untuk pengembangan moral diri (self-improvement) dalam ikatan persaudaraan simbolik.
Asal Mula Isu Rotary Sama dengan Freemasonry, berawal dari beberapa kesamaan superfisial dan konteks historis:
▪ Kesamaan Sistem: Keduanya adalah organisasi perkumpulan eksklusif yang berbasis undangan (by invitation only), bukan pendaftaran terbuka.
▪ Konteks Politik: Tuduhan ini menguat di Indonesia pada era 1960-an. Rotary dan Freemasonry sama-sama dibekukan melalui Keputusan Presiden No. 264 Tahun 1962 karena dianggap tidak sejalan dengan ideologi politik saat itu, sehingga memicu persepsi publik bahwa keduanya adalah entitas yang serupa atau terkait .
▪ Pengaruh Teori Konspirasi: Terdapat pandangan dari kelompok tertentu yang menganggap Freemasonry menggunakan nama-nama lain seperti Rotary dan Lions Club sebagai kamuflase untuk agenda terselubung .
Untuk meluruskan kesalahpahaman publik tersebut, maka langkah-langkah yang dapat diambil meliputi:
▪ Edukasi Publik dan Transparansi: Mempublikasikan kegiatan sosial secara luas. Reuben Abati, mantan jubir kepresidenan Nigeria, menekankan bahwa Rotary harus lebih gencar bercerita tentang dampak positifnya agar publik tidak salah paham menganggapnya sekadar “klub sosial” .
▪ Menunjukkan Independensi: Secara konsisten menegaskan bahwa Rotary adalah organisasi non-politik dan non-religius yang bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga resmi seperti WHO dan UNESCO, dalam program kesehatan global .
▪ Membangun Citra Digital: Memanfaatkan media sosial untuk menampilkan bukti nyata kegiatan lapangan dan keterlibatan anggota dari berbagai latar belakang guna menangkal narasi eksklusivitas .
Referensi:
▪ Rotary International. (1927). Constitution and by-laws of Rotary International. Rotary International.
▪ Rotary International. (n.d.). Official directory. Rotary International.
▪ Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 2000 tentang Pencabutan Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962 tentang Larangan Organisasi Rotary Club, Freemasonry, dan Organisasi Lainnya.
Apakah Rotary Sama dengan Freemasonry? Ini Fakta dan Perbedaannya











