Di Mutiara Persada International School, lab bahasa, Ms. Indriyani berdiri di depan papan tulis interaktif, tersenyum melihat tiga siswanya, Dhania, Tanti, dan Lukito, yang baru saja selesai presentasi tentang etika kepemimpinan.
“Duduk sini,” ujar Ms. Indri lembut. “Kemarin seorang tokoh masyarakat Jogja berkata: ‘Urip iku sing setiti, ngati-ati, nganggo ati, jo korupsi.’”
Dhania, tampak bingung: “Aku ga paham, Ms.”
“Nah, intinya begini:
三思而行, 全心全意, 两袖清风
Sān sī ér xíng, Quán xīn quán yì, Liǎng xiù qīng fēng
Tiga kali berpikir, baru bertindak; Sepenuh hati, sepenuh pikiran/niat; Dua lengan baju penuh angin sejuk.”
“Setiti, teliti,” kata Ms. Indri. “Itu sān sī ér xíng. Tiga kali berpikir sebelum bertindak. Bukan karena ragu, tapi karena kita sadar setiap tindakan meninggalkan jejak, yang akan terus diingat lama setelah kita pergi.”
Lukito, menghela napas: “Tapi dunia sekarang berlalu cepat. Te rlalu lama mikir, kita ditinggal.”
Ms. Indri tersenyum: “Benar. Dunia memang tak bisa menunggu. Tapi, lebih baik terlambat satu langkah untuk memastikan kebenaran, dari pada cepat jatuh karena buru-buru?”
“Ngati-ati, hati-hati,” Ms. Indri melanjutkan. “Itu bukan ketakutan. Tapi bagaimana kita memberi ruang pada hati nurani sebelum memutuskan. Ikuti Rotary Four Way Test,”
▪ Itu benar?
▪ Itu adil untuk semua?
▪ Itu membangun niat baik dan bersahabat?
▪ Itu bermanfaat untuk semua?
“Ini empat ujian hati nurani yang bisa menyelamatkan hidup seseorang dari penyesalan selamanya.”
Dhania menggumam: “Jadi ngati-ati itu menguji tindakan kita dengan benar, adil, bersahabat, bermanfaatkah?”
“Tepat sekali.” Jawab Ms Indri.
Ms. Indri, menarik napas panjang: “Lalu nganggo ati, bekerja sungguh-sungguh, memakai hati. Itulah ‘quán xīn quán yì’. Bekerja sepenuh hati, sepenuh pikiran. Bukan setengah-setengah.”
“Bukan asal jadi. Karena pekerjaan yang dikerjakan dengan hati, meski kecil, akan terasa beratnya bagi orang lain.”
Tanti menyeka matanya: “Aku ingat ibu. Beliau jualan gorengan tempe. Pernah kutanya kenapa goreng ga pakai minyak jelantah biar irit?”
“Dan Ibuku jawab: ‘Nak, jualan itu pakai ati. Yang beli manusia. Jangan kasi mereka makanan yang bikin sakit.’”
Ms. Indri tersenyum, matanya berkaca: “Ibumu benar! Beliau mengajar kita untuk nganggo ati tanpa pernah menyebut kata itu.”
“Dan yang terakhir,” kata Ms Indri dengan suara hampir berbisik: ‘Jo korupsi – jangan korupsi. liǎng xiù qīng fēng. Dua lengan baju penuh angin sejuk. Artinya, hidup bersih, sederhana, tapi tenang. Tanpa beban di hati karena tak pernah mengambil yang bukan haknya.”
Lukito berbisik: “Kakekku dulu Lurah. Pernah ditawari ‘bagian’ untuk proyek jembatan. Namun beliau tolak, padahal keluarga kami kekurangan. Ketika beliau meninggal, banyak orang datang melayat, dan semua bilang: ‘Pak Lurah tak pernah makan uang rakyat.’ Sekarang aku ngerti kenapa beliau selalu hidup tenang dan damai.”
“Ingat!,” Ms. Indri membuka Alkitab di tabletnya: ‘Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu? Berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhanmu.’ ( Mikha 6:8 )
Tanti mengangguk pelan: “Iya, betul. ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.’” ( QS. Al-Maidah ayat 8 )
“Mereka semua bicara hal yang sama,” kata Dhania dengan suara bergetar. “Benar. Adil. Bersahabat. Bermanfaat.”
“Kebenaran itu universal,” Ms. Indri menimpali. “Dari Sabang sampai Merauke, dari Timur Tengah sampai Tiongkok, dari zaman nenek moyang sampai generasi digital, kebenaran tak pernah berubah.”
Ia berjalan ke jendela, berkata: “Urip, aja adigang, adigung, adiguna.’ Jangan mengandalkan kekuasaan, jangan mengandalkan martabat keturunan, jangan mengandalkan kepintaran. Pada akhirnya, hanya kejujuran dan hati bersih yang akan menyelamatkan kita.”
“Mau contoh?” Ms. Indri menoleh.
Ketiga siswa mengangguk.
“Ketika kamu kerjakan tugas kelompok, setitilah: teliti baca instruksi dan periksa data. Ngati-atilah: hati-hati, jaga agar semua anggota dapat porsi yang adil, tak ada yang dirugikan. Dan, nganggo ati: kerjakan sungguh-sungguh, bukan sekadar nyalin dari AI atau internet. Ingat, tugas ini dinilai bukan hanya dari angkanya, tapi juga dari proses belajarnya.”
“Dan jo korupsi, jangan korupsi waktu dengan menunda, jangan korupsi kredit dengan mengambil ide teman tanpa menyebut sumbernya, dan jangan korupsi kepercayaan yang diberikan kelompok kepadamu.”
“Setiap hal besar dimulai dari yang kecil,” lanjut Ms. Indri menepuk pundak Lukito. “Korupsi tak selalu tentang uang miliaran. Korupsi dimulai dari kebohongan kecil yang dibiarkan. Dari keterlambatan yang tak pernah minta maaf. Dari amanah yang disepelekan.”
“Tapi sebaliknya, integritas juga dimulai dari hal kecil.”
Tak lama, Dhania berdiri, berkata: “Ms, aku akan ingat semua ini: ‘Sān sī ér xíng. Quán xīn quán yì. Liǎng xiù qīng fēng. Tiga kali berpikir, bekerja sepenuh hati, hidup bersih.”
“Yaaaaaa…. setiti, ngati-ati, nganggo ati, jo korupsi,” Tanti menambahkan, tersenyum.
Lukito mengeluarkan ponselnya, memotret papan tulis. “Biar aku simpan. Buat pengingat.”
Ms. Indri tersenyum. Ia tahu, di tengah gempita dunia yang suka lupa arti kejujuran, tiga anak muda ini masih ingin belajar tentang integritas. Itu seperti melihat pohon hijau rimbun di tengah gurun yang gersang.
Footnote:
“Dikembangkan dengan bantuan AI; dimodifikasi oleh penulis untuk tujuan edukasi; lisensi: CC BY-NC 4.0.












