Rasa Ingin dan Tahu Cukup: Kunci Hidup Seimbang

banner 468x60

Di kelas di Mutiara Persada International School, Ms Indriyani menulis di papan:

知足不辱,知止不殆
Zhīzú bù rǔ, zhīzhǐ bù dài

Dhania mengernyit: “Apa itu?”

“Tahu cukup, takkan terhina; tahu berhenti, takkan celaka,” jawab Ms Indri tersenyum.

Tanti: “Look simpel… tapi susah!”

Ms Indri mengangguk: “Justru karena sederhana, sering diabaikan.”

Lukito angkat tangan: “Ms, kalau kita punya keinginan besar, apa itu salah?”

“No,” jawab Ms Indri tegas. “Rasa ingin itu bahan bakar hidup. Tapi tanpa kendali, dia jadi api yang membakar.”

Dhania menatap antusias: “Jadi… masalah utama bukan inginnya tapi tak tahu ‘cukup’?”

“Persis,” kata Ms Indri. “Orang yang tak pernah merasa cukup, bisa melakukan apa saja. Bahkan yang paling memalukan.”

Ms Indri kemudian menulis lagi:
▪   Itu benar?
▪   Itu adil bagi semua?
▪   Itu membangun niat baik dan bersahabat?
▪   Itu bermanfaat bagi semua?

“Ini prinsip etika hidup Rotary: Four Way Test.”

Tanti membaca pelan: “Kalau kita serakah… ya, itu semua tidak: ‘tidak benar, tidak adil, tidak bersahabat, tidak bermanfaat’”

Ms Indri tersenyum:”Ini nilai universal,”
“Cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu.” ( Ibrani 13:5 )

“Dan jangan jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan kamu terlalu mengulurkannya. ( QS. Al-Isra: 29 )”, tanggap Lukito.

Tanti, antusias: “Dua-dua bilang… Cukup, jangan berlebihan.”

“Ya,” kata Ms Indriyani. “Keseimbangan: Tidak kikir, tidak boros. tidak rakus, tidak lalai.”

“Itu ada juga di budaya kita’” kata Ms Indri.
“Nrimo ing pandum, nanging ora kendho ing gawe.”

Dhania tersenyum:”Saya tahu! Artinya menerima, tapi tetap berusaha”

“Betul. Tahu cukup bukan berarti berhenti mimpi. Tapi tahu batas, agar tak kehilangan jati diri.” Jawab Ms Indri.

Tanti tiba-tiba berkata: “Ms, saya pernah nyontek pas ujian. Karena ingin nilai tinggi…”

“Terus?” tanya Ms Indri lembut.

“Nilai memang tinggi, tapi hati ga tenang, selalu takut ketahuan.”

Ms Indriyani menatap hangat: “Itulah ‘tak tahu cukup’. Nilai tak cukup, harus sempurna. Akhirnya, mencoreng martabat sendiri, kalau ketahuan.”

“Lihat ini! Seorang siswa dipercaya pegang uang kas kelas. Ia  mengambil sedikit, karena merasa uang jajannya ‘tak cukup’”

Lukito menyela: “Itu awal dari masalah besar.”
“Jika ia tahu cukup dan berhenti, ia akan jaga amanahnya, dan selamat. Dia bukan hanya bebas dari hukuman, tapi dari rasa diri bersalah.”

Ms Indri menatap ketiga siswanya: “Dunia kita penuh godaan: ingin lebih cepat sukses, ingin lebih terkenal, ingin lebih kaya, lebih banyak uang!”

“Yang membuat orang jatuh dalam korupsi bukan karena dia ingin, tapi karena dia lupa kapan cukup dan berhenti.”

Dhania menarik napas dalam: “Hidup bukan soal punya banyak, ya?”

Ms Indriyani tersenyum: “Bukan!”
“Hidup adalah tahu kapan berkata: cukup!
Dan tahu kapan berkata: stop, sampai sini.”

“Ingat!
▪   Orang yang merasa cukup takkan serakah, hingga terhindar dari perilaku memalukan atau mencoreng martabat.
▪   Orang yang tahu kapan harus berhenti, takkan menempatkan dirinya dalam situasi berbahaya dan merugikan.”

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60