Di ruang tunggu keluarga Omah Liem, Eyang Sutinah duduk bersama Indah, yang memegang tablet, Bawono (22) dengan buku sejarahnya, dan Linda (25) yang sedang menyiapkan tripod ponselnya.
Eyang Sutinah: “Dengar, kalian suka revitalisasi rumah tua kan?” Ini contoh terbaik, Omah Liem, atau dikenal sebagai Liem Heritage Museum.
Indah: “Betul, Eyang. Aku fokus ke restorasi arsitekturnya. Bangunannya luar biasa; perpaduan Indische Empire Style dengan sentuhan lokal yang kental. Bayangkan, atapnya model Tajug khas Jawa, tapi di ujungnya ada hiasan naga dan phoenix. Di dalam, kita bisa lihat ukiran Megamendung yang bersanding dengan motif bunga Peoni. Ini bukti fisik kalau dulu perbedaan budaya itu bisa menyatu dengan cantik.”
Bawono: “Nah, Omah Liem punya sejarah yang kaya dan kompleks. Rumah ini dibangun tahun 1850-an oleh Kapiten atau Mayor Liem Tjay Sing, tokoh masyarakat Tionghoa Lasem. Omah Liem ini simbol bahwa jadi ‘Indonesia’ itu adalah proses akulturasi yang panjang. Ruang bawah tanah atau lorong-lorong tua di sana jadi saksi bisu kalau perjuangan kemerdekaan kita itu sifatnya lintas etnis. Di masa lalu, Lasem pusat pergerakan, rumah-rumah besar seperti ini sering jadi tempat transit rahasia bagi para pejuang. Omah Liem digunakan sebagai tempat pertemuan rahasia bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia, dan menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Rumah ini jadi museum yang menggambarkan persaudaraan dan akulturasi masyarakat Tionghoa–Jawa, termasuk peran komunitas Tionghoa lokal. Ada narasi tentang gimana komunitas Tionghoa di sana ikut menyuplai logistik dan menyembunyikan dokumen penting saat melawan kolonial. Ini sisi sejarah yang jarang ditulis di buku sekolah.”
Indah: “Makanya, aku ga mau lihat museum yang kaku. Museum harus cerita tentang kehidupan peranakan abad ke-19 secara utuh. Mulai dari altar leluhur, keramik perdagangan, sampai replika dapur yang menunjukkan pengaruh kuliner Tionghoa pada makanan kita sehari-hari.”
Eyang Sutinah, mengangguk: “Ya, Omah Liem itu cermin yang mengingatkan kita kalau Indonesia dibangun dari banyak rumah dan warna. Jangan sampai kita sibuk pugar kayunya, lupa merawat ceritanya.”
“Sejarah bukan cuma soal siapa yang pegang senjata, tapi siapa yang berani menjaga kerukunan di tengah perbedaan.”
Eyang Sutinah: “Tahu ga, Omah Liem dibeli oleh Udaya Halim sekitar tahun 2017–2018 dan direstorasi selama 5,5 tahun.
Sebelum direstorasi, bangunan ini pernah difungsikan sebagai vihara bernama Karuna Cattra selama lebih dari 50 tahun. Rumah ini kemudian diresmikan sebagai Museum Liem Heritage pada 11 November 2023, dengan tujuan melestarikan sejarah dan budaya Lasem. Omah Liem jadi simbol akulturasi etnis di Rembang, dan mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan budaya dan sejarah.
Footnote:
“Dikembangkan sebagian dengan bantuan AI dan dimodifikasi oleh penulis; lisensi: CC BY-NC 4.0.”












