Wisata Budaya: Lasem, Little China or Miniature Indonesia?

banner 468x60

LASEM paling sering dijuluki LITTLE CHINA ( Tiongkok Kecil ) untuk menggambarkan tingginya tingkat akulturasi Tionghoa- Jawa-Islam di Lasem.
Tetapi saya lebih suka menyebutnya Miniatur Indonesia ( Indonesia Kecil )

Inilah kenapa?

Bacaan Lainnya
banner 300x250

LASEM, bukan sekadar “Little China”, tapi detak jantung miniatur kehidupan Indonesia.

​Di mana ombak Laut Jawa mencium tepian pesisir utara, di sanalah Lasem berdiri, bukan sebagai fosil batu-batu kuno tanpa jiwa, tapi sebagai sebuah bukti hidup perlawanan terhadap amnesia sejarah.

Banyak yang menyebut “Little China”, namun julukan itu terlalu sempit untuk menampung jiwa dan semangatnya. Lasem adalah Miniatur Indonesia yang paling murni: laboratorium harmoni di mana perbedaan tak pernah dianggap ancaman, tapi justru jadi benang emas yang menenun peradaban: Harmony in Diversity.

​Lihatlah sehelai Batik Tiga Negeri,Lasem. Di sana, merah Abang Getih Pithik—darah ayam yang berani—bermain dengan naga Tiongkok dan burung Hong, lalu bersimpuh dalam pakem Parang Jawa.

Ini bukan sekadar kain, bukan sekedar batik tanpa makna. Ini adalah deklarasi persatuan Tionghwa, Jawa, Kong Hu Cu, Islam yang dipelopori oleh Na Li Ni dari Champa sejak 1413 M.

​Tatap cakrawala kotanya! +- 235 bangunan hibrida berdiri tegak, diam membisu dinantara atap pelana Tionghoa, keanggunan kolonial, dan kerendahan hati rumah Jawa. Di sini, Klenteng Cu An Kiong tak saling memunggungi dengan Masjid Jami’ Lasem. Mereka telah bertukar sapa sejak abad ke-16. Di sana, pilar dari Kapitan Tionghoa berdiri kokoh di dalam rumah Allah umat Muslim, membuktikan bahwa toleransi di Lasem bukan sekadar teori, tapi udara kehidupan mereka sehari-hari.

Ingat! ​Lasem menolak mati. Tahun 2024-2025, Lasem bangkit dengan gairah baru:
▪ ​Perlindungan Hukum: Perda No. 4 Tahun 2025 bukan sekadar kertas, tapi perisai bagi Batik Tulis Lasem.
▪ ​Visi Kota Pusaka: RDTR 2024-2044 memastikan Lasem tumbuh jadi “Kota Pusaka Berkelanjutan”, di mana modernitas tak boleh mengubur identitas.
▪ ​Nadi Komunitas: Dari Langlang Lasem hingga aksi Yayasan Lasem Heritage, sejarah kini diceritakan lewat jejak langkah kaki para pejalan.
▪ Seni yang Hidup: Tradisi Laesan kini bersiap mendunia, membawa magis pertunjukan rakyat kuno ke panggung Warisan Budaya Takbenda.

​Mengapa dunia mulai berpaling ke Lasem? Mengapa kita semua perlu ke Lasem?

Karena manusia rindu pada keaslian. Dengan lonjakan kunjungan ke Lasem mencapai 2,5 juta wisatawan dan ratusan ribu peziarah ke Masjid Jami’, Lasem membuktikan bahwa sejarah adalah magnet masa depan.
▪ Jelajahi Karangturi & Dasun: Di mana setiap dinding merah dan pintu kayu jati menyimpan rahasia abad perdagangan.
▪ ​Hiduplah di Rumah Oey dan di Rumah Merah: Rasakan waktu melambat saat menyesap teh di pusat Batik Tiga Negeri.
▪ Temukan Kedamaian di Ratanavara: Di bawah bayang Buddha Tidur, di tengah aroma dupa dan gema adzan.
▪ Cicipi Akulturasi: Biarkan lidah Anda mengenali rasa dalam semangkuk Nasi Ayam Sin Nio.

​Lasem memberi kita pelajaran pahit sekaligus manis: Sebuah bangsa akan kuat bukan karena ia seragam, tapi karena ia berani menyatu tanpa kehilangan jati diri.

HARMONI IN DIVERSITY

​Lasem adalah cermin. Jika kita biarkan Lasem terlupakan, kita sedang menulis obituari bagi keberagaman kita sendiri. Namun, jika kita menjaga setiap lengkung ukiran dan helai kainnya, kita sedang membangun masa depan Indonesia yang abadi.

Mari ke Lasem. Di sanalah, jiwa Indonesia sejati masih berdetak: BHINNEKA TUNGGAL IKA!***

 

Footnote:
Dikembangkan sebagian dengan bantuan AI ( DeepSeek, ChatGPT, Meta AI, Manus, Gemini ); dimodifikasi oleh penulis; lisensi: CC BY-NC 4.0.”

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60