JAKARTA – Tak banyak yang tahu, di balik ribuan program kemanusiaan Rotary Indonesia yang menyentuh pelosok negeri, ada satu nama yang bekerja dalam senyap selama lebih dari tiga dekade: Sanny Suharli. Bukan politisi, bukan pejabat negara, namun jejak pengabdiannya melintasi generasi dan wilayah dari gang sempit tanpa sanitasi hingga desa-desa yang dulu kehilangan harapan akan layanan kesehatan.
Lebih dari 35 tahun, Sanny menapaki jalan kemanusiaan bersama Rotary International. Perjalanan panjang itu mencapai puncaknya ketika ia resmi dilantik sebagai Gubernur Rotary Indonesia Distrik 3410 periode 2025–2026 di Orlando, Florida, Amerika Serikat. Sebuah amanah besar yang menjadikannya penanggung jawab wilayah luas: dari Yogyakarta, Aceh, hingga Kalimantan.
Namun bagi Sanny, jabatan bukanlah tujuan. Ia hanyalah kelanjutan dari perjalanan panjang yang dimulai dari satu keyakinan sederhana: jika manusia tidak mau bergerak, tidak akan pernah ada perubahan.
“Tantangan terbesar manusia bukan sistem atau keadaan, tapi dirinya sendiri,” ujarnya lirih namun tegas.
Dari Kakus Sungai ke Martabat Manusia
Di awal pengabdiannya, Sanny memilih kerja-kerja paling dasar yang kerap luput dari sorotan: sanitasi. Ia menyaksikan langsung bagaimana masyarakat membuang hajat ke sungai, praktik yang dikenal dengan istilah getir “kakus helikopter”. Bagi sebagian orang itu hal biasa, bagi Sanny itu soal martabat manusia.
Bersama Rotary, ia memulai pembangunan MCK layak di daerah-daerah tertinggal. Tak ada seremoni. Tak ada kamera. Hanya kerja nyata dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal yang paling sederhana.
Menyelamatkan Ibu dan Bayi, Mengubah Sejarah Desa
Pada periode 1993–1997, Sanny kembali menorehkan jejak penting. Berkolaborasi dengan Rotary Club Australia, ia menggagas Klinik Bidan Desa di Medan. Di masa itu, banyak ibu masih melahirkan di tangan dukun tanpa fasilitas medis memadai risiko kematian menjadi bayang-bayang nyata.
Program tersebut terbukti menyelamatkan banyak nyawa, menurunkan angka kematian ibu dan bayi, serta menjadi model layanan kesehatan berbasis komunitas yang bertahan hingga kini.
Rotary, Polio, dan Dunia yang Diselamatkan
Sebagai figur senior Rotary, Sanny menyaksikan langsung salah satu capaian terbesar organisasi ini: perang global melawan polio. Rotary International, kata Sanny, telah menyumbangkan lebih dari 400 juta dolar AS setiap tahun untuk misi kemanusiaan dunia, termasuk vaksinasi.
Indonesia kini bebas polio sebuah pencapaian yang patut disyukuri. Namun baginya, perjuangan belum selesai.
“Di Afrika, polio masih ada. Selama masih ada satu anak yang terancam, tugas kita belum selesai,” tegasnya.
Air Bersih: Masalah Diam-diam yang Memiskinkan
Di usia pengabdian yang matang, Sanny kini menyoroti persoalan krusial lain: akses air bersih. Fakta yang ia ungkap mengguncang kesadaran bahkan di Jakarta, hanya sekitar 70 persen warga yang menikmati air PDAM.
“Dengan UMR Rp5 juta, bagaimana orang bisa terus membeli air minum layak setiap hari?” tanyanya retoris.
Rotary pun bergerak, menggandeng pemerintah dan berbagai pihak, memastikan air bersih bukan lagi kemewahan, melainkan hak dasar.
Pesan yang Membuat Terdiam: Untuk Generasi Muda
Di akhir setiap cerita pengabdiannya, Sanny selalu kembali pada satu harapan besar: anak muda.
Ia menolak anggapan bahwa kebaikan menunggu kaya raya.
“Berbagi itu bukan soal uang. Perhatian, tenaga, ilmu, bahkan senyum itu semua bisa mengubah hidup orang lain.”
Dengan tema besar Rotary tahun ini, “Unite for Good”, Sanny berharap lahir lebih banyak manusia yang memilih peduli di tengah dunia yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri.
“Kalau kita bersatu untuk kebaikan, dunia ini tidak akan sempurna. Tapi ia akan jauh lebih manusiawi,” tutupnya.
Dan di situlah letak keteladanan Sanny Suharli bukan pada jabatannya, melainkan pada kesetiaan panjangnya untuk terus menyalakan harapan, bahkan ketika tak ada yang melihat.***












