JAKARTA – Kesepian bukan penyakit baru. Dunia sudah lama sakit dan Rotary lahir dari luka itu.
Lebih dari satu abad lalu, ketika kota-kota tumbuh cepat dan manusia mulai terasing satu sama lain, sebuah gerakan diam-diam lahir di Chicago. Namanya sederhana: Rotary. Namun misi di baliknya jauh lebih besar—menyelamatkan manusia dari kesepian yang tak terlihat.
Kisah ini bermula pada musim panas 1910. Seorang pebisnis asal Winnipeg, P.A.C. McIntyre, mendengar kabar tentang sebuah klub unik: orang-orang dari berbagai profesi berkumpul setiap pekan, berpindah-pindah tempat, bukan untuk bisnis semata melainkan untuk persahabatan dan pengabdian sosial. Nama “Rotary” pun lahir dari kebiasaan mereka yang berotasi lokasi pertemuan.
McIntyre kemudian bertemu Paul Harris, pengacara muda pendiri Rotary pertama. Harris mengungkapkan kegelisahan yang terasa sangat relevan hari ini: hidup di tengah keramaian kota, tapi tanpa wajah yang benar-benar dikenal. “Di mana-mana ada orang, tapi tak ada yang terasa dekat,” tulis Harris dalam autobiografinya. Rotary dibangun sebagai ruang untuk koneksi manusia yang nyata, bukan relasi semu.
Terpukau oleh visi itu, McIntyre membawa Rotary ke Kanada. Tahun 1912, berdirilah klub Rotary pertama di luar Amerika Serikat di Winnipeg. Dalam waktu singkat, semangat kebersamaan itu menjalar: puluhan, ratusan klub bermunculan, menjadi gerakan nasional.
Kini, lebih dari 100 tahun kemudian, dunia kembali berada di titik krisis yang sama—bahkan lebih parah. “Epidemi kesepian” menjadi istilah global. Meski sering dikaitkan dengan pandemi COVID-19 atau era digital, kenyataannya kesepian adalah masalah lama yang hanya berganti wajah.
Data mencengangkan pun bermunculan. Survei Commonwealth Fund 2021 menempatkan Kanada sebagai negara paling kesepian di antara 11 negara maju. Sementara Statistics Canada mencatat hampir 1 dari 4 anak muda usia 15–24 tahun mengaku sering atau selalu merasa kesepian.
Masalah ini tak lagi dianggap sepele. Tahun 2023, Dr. Vivek Murthy, saat itu menjabat Ahli Bedah Umum AS, secara resmi menyatakan kesepian sebagai krisis kesehatan publik, dampaknya setara dengan rokok dan obesitas.
Ironisnya, di tengah keterhubungan digital tanpa batas, manusia justru kehilangan kedekatan emosional. Organisasi sosial dianggap kuno, dipandang sebagai peninggalan generasi kakek-nenek. Banyak orang beralih ke komunitas daring—namun gagal menemukan hubungan yang bermakna dan memberi tujuan hidup.
Di sinilah Rotary kembali disebut-sebut sebagai antitesis zaman. Seperti sup ayam buatan nenek terlihat sederhana, terasa kuno, tapi terbukti menyembuhkan. Bergabung dengan organisasi kemasyarakatan mungkin tampak usang, namun efektivitasnya membangun rasa memiliki tak pernah usang.
Buktinya nyata. Konvensi Rotary 2025 di Calgary menghadirkan 15.000 anggota dari lebih 120 negara, memperlihatkan kekuatan global organisasi pelayanan di tengah dunia yang kian terpecah.
Saat banyak negara mengalami gelombang isolasionisme dan pemotongan dana kemanusiaan, organisasi sipil justru maju mengisi kekosongan. Rotary dan organisasi sejenis menjalankan “kekuatan lunak” global menggerakkan nilai kepedulian, solidaritas, dan pemberian nyata, dari kesehatan global hingga pendidikan dan tanggap bencana.
Selama lebih dari satu abad, organisasi kemasyarakatan telah menjadi penopang sunyi peradaban. Kini, ketika kesepian mengancam kesehatan kolektif manusia, obat lama itu kembali relevan dan mungkin lebih dibutuhkan daripada sebelumnya.
John Hewko adalah Sekretaris Jenderal dan CEO Rotary International.
Artikel ini pertama kali dimuat dalam Rotary Canada edisi Januari 2026.***








