SINAR senja menerangi wajah serius Mr Kostaman, sang Kepala Sekolah, saat dia menyesap teh hangat pelan.
Mr Kostaman: “Rekan-rekan, Ada satu kalimat Jawa yang mengusik: ‘Awak iku dagangane Pangeran’. Artinya sederhana tapi dalam: ‘Tubuh kita ini titipan, amanah dari Allah.’
“Nah, bila dititipi barang oleh teman saja, kita harus merawatnya dengan baik, ya kan? Lantas, bagaimana laporan kita pada Allah jika tubuh yang Dia titipkan kepada kita justru kita terlantarkan?”
Mr Slamet: “Nah itulah! Realitanya? Anak-anak sekolah kita, baru olahraga sebentar sudah ngos-ngosan, tapi scroll TikTok kuat berjam-jam.”
“身体是革命的本钱”
“Shēn tǐ shì gé mìng de běn qián”
“Tubuh adalah modal revolusi.”
“Bagi anak, tubuh sehat adalah modal untuk bermain, belajar, dan berpetualang. Tanpa fisik tangguh, kecerdasan intelektual seperti bangunan megah di atas tanah lumpur, ambles. Kita butuh Pilar Pembiasaan dan Sistem untuk memaksa tubuh mereka bergerak kembali melalui ekosistem sekolah yang disiplin.”
Ms Lovanca, mengangguk: “Setuju, Mister. Namun, sistem tanpa nilai akan terasa seperti beban.
“Tak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam dalam kamu…? Maka muliakanlah Allah dengan tubuhmu. (1 Korintus 6:19-20).”
“Ini pesan Tuhan untuk anak: ‘Jaga tubuhmu karena itu rumah Tuhan!”
Mr Kostaman, berbinar: “Tepat.”
“Wahai manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang ada di bumi… (QS. Al-Baqarah: 168).”
“Ini pendorong untuk anak-anak memilih makanan yang baik dan sehat, supaya tubuh sehat dan kuat. Jadi, merawat diri adalah bentuk ibadah.”
“Mari kita bangun Pilar Pembiasaan supaya siswa tak hanya patuh, tapi juga paham filosofi hidup bahwa tubuh mereka adalah rumah bagi mimpi-mimpi masa depan mereka yang harus mereka jaga.”
Mr Kostaman, tersenyum: “Menarik. Kita tak bisa hanya main perintah. Kita harus mulai dengan Keteladanan. Guru, harus jadi kurikulum berjalan.”
“Bayangkan, guru mengajarkan kesehatan badan tapi tangannya menggenggam gorengan tempe mendoan dan rokok mengepul tiap hari di depan mereka. Pesan kesehatan kita sia-sia, hancur.”
“Kita harus jadi panutan dalam menjaga ‘titipan Allah’ ini agar mereka melihat bahwa integritas dimulai dari mulut dan lidah.”
Ms Lovanca: “Betul, Pak. Dan kita butuh Pilar Refleksi. Tiap akhir semester anak-anak diajak merenung melalui sesi ‘Rumah bagi Mimpiku’. Mereka diajak bertanya pada diri sendiri:
▪ ‘Jika mobilku mogok karena tak dirawat, mampukah aku sampai ke tujuanku?’
▪ ‘Jika badanku lemah sakit-sakitan karena tak dirawat, mampukah aku menggapai cita-citaku?’
“Ajak mereka menulis dan mengucapkan nilai itu supaya identitas mereka sebagai penjaga amanah Tuhan menetap dalam diri mereka secara permanen.”
Pak Slamet, mantap: “Iya, ini bukan masalah otot saja, tapi urusan iman dan masa depan. Kita sedang melatih anak-anak untuk bertanggung jawab pada apa yang paling dekat dengan mereka: tubuh mereka sendiri. Dari tubuh yang sehat, lahir mental yang tangguh. ‘Ora et Labora!'”
Mr Kostaman: “Persis. Kita tak perlu buat banyak daftar larangan. Kita bangun identitas baru:
▪ ‘Kami adalah Generasi Muda Mutiara Persada yang mencintai titipan Tuhan dengan menjaga diri, agar siap mengubah dunia.’
“Mari kita mulai revolusi ini dari meja makan kantin kita hingga ke lapangan upacara, hingga ke kelas kita masing-masing.”
Di lapangan, sorak-sorai anak-anak yang sedang berlatih sepak bola terdengar riuh. Itulah musik latar bagi sebuah janji guru dan siswa Sekolah Mutiara Persada untuk menjaga kesehatan tubuh mereka demi masa depan yang mulia.***
Footnote:
“Dikembangkan sebagian dengan bantuan AI (DeepSeek, ChatGPT, Meta AI, Gemini AI, Manus AI); dimodifikasi oleh penulis; lisensi: CC BY-NC 4.0.











