SINONIM – Mr. Soepomo, sedang membaca poster di kantornya: “Tak semua hubungan harus saling menguntungkan, yang penting tak saling menyakiti.”
Di luar, para siswa sedang bersitegang: Tate, Mena, Lio, Melo, dan Soso. Mereka gagal menyelesaikan tugas kelompok. Tate ingin memimpin sendirian, Mena protes karena ide warnanya diabaikan, Lio kesal karena alatnya dipakai tanpa izin, Melo hanya diam sambil menghafal teori, sementara Soso duduk di pojok, mengupas jeruk, tak diajak bicara.
Mr. Soepomo mengajak mereka semua ke Sura Loka Zoo. “Perhatikan,” bisiknya kepada mereka.
Di kandang terbuka, tampak buaya dan kapibara dan anaknya. Induk kapibara berbaring santai, tepat di samping buaya yang berjemur dengan mulut menganga. Sesekali, anak kapibara bahkan memanjat punggung buaya yang tampak diam saja.
“Waoow, gila! Bisa dimakan buaya!” seru Lio.
“Tapi tidak, kan?” bisik Mr. Soepomo. “Ini komensalisme. Si buaya, tak diuntungkan, tapi juga tak dirugikan. Kehadiran buaya melindungi kapibara dari predatornya. Kabibara hidup aman dan nyaman bersama buaya.”
“Mereka saling diam, tak tampak berkolaborasi. Tapi walau mereka berbeda, mereka bisa hidup bersama tanpa saling mengganggu. Dari situlah tercipta ruang aman untuk masing-masing.”
Mr Soepomo menatap kelima muridnya. “Nah, itulah! Jangan pikir kolaborasi harus langsung saling mencintai, saling membantu dengan sempurna?”
“Tidak!”
“Yang penting, seperti buaya dan kalibara, mereka membiasakan diri untuk tak saling mengganggu, mereka hidup aman bersama-sama, walau mereka berbeda.”
“Coba, kalian kelola kebun kecil ini. Tanam sayur!
Awalnya kacau!
Tate membuat jadwal rigid. Mena protes karena jadwal itu tak memberi ruang untuk “memberi sentuhan indah” pada kebun itu. Lio, yang tahu cara menanam, merasa ilmunya dianggap remeh oleh teori Tate. Melo sibuk cari artikel tentang manfaat sayur bayam, tapi takut menyampaikan. Soso hanya mengamati tanah, lalu diam-diam bawa pupuk dari rumah.
Tensi memuncak saat Lio, tanpa bicara, langsung menggali bedengan sesuai caranya. Tate marah karena ‘jadwalnya dilanggar’. Mena hampir nangis karena tanahnya ‘berantakan’.
Lagi, Mr. Soepomo mengumpulkan mereka dan berkata: “Ingat, kalian tak harus sepakat, tapi kalian harus memastikan tindakan kalian tak ‘merugikan’ yang lain. Lio menggali, itu kontribusinya. Tate buat jadwal, itu kontribusinya. Mena, kau bisa pilih sudut mana yang bisa kau hias tanpa mengganggu hasil kerja yang lain. Soso sudah bawa pupuk, itu kontribusinya. Melo, bacaanmu, bisa kau bagi di grup chat tanpa perlu takut.”
Pelan tapi pasti, semua berubah. Mereka sadar untuk “tak saling menginjak wilayah” yang sedang dikerjakan orang lain. Saat Soso menyebar pupuk, Tate belajar diam, meski itu tak ada di jadwal. Saat Mena menanam bunga di pinggir, Lio belajar menghindari area itu dengan cangkulnya. Saat Melo mengirim artikel, mereka membacanya tanpa kritik pedas.
Mereka mulai hidup ‘berdampingan’ seperti buaya dan kapibara. Hidup bersama, dalam diam tapi aman.
Satu siang, mereka kembali main ke Sura Loka Zoo. Buaya tiba-tiba bergerak, masuk ke air, berenang menjauh dari kapibara. Induk kapibara, hanya mengangkat kepala, lalu kembali tenang bermain bersama anaknya.
“Lihat,” kata Mr. Soepomo. “Mereka bahkan punya ‘kesepakatan tak terucap’ untuk memberi ruang. Buaya tahu kapan waktunya memberi jarak. Itu pun bagian hidup berdampingan tanpa saling mengganggu.”
Esok hari, terjadi insiden kecil. Saat menyiram, ember Lio jatuh menimpa kaki Mena. Refleks, Lio yang kuat langsung mengangkatnya. Tate segera mengambil P3K. Melo mencari cara menenangkan Mena yang meringis kesakitan. Soso dengan tenang melanjutkan menyiram.
Spontan, tanpa rencana, tapi mereka telah menciptakan ruang aman, ruang di mana mereka terbiasa tak saling mengganggu, tapi membuka kemungkinan untuk aksi saling membantu secara alami.
Proyek kebun selesai! Subur. Anak-anak hidup berdampingan dengan damai.
“Efisiensi tertinggi bukan mengontrol semua orang, tapi menciptakan sistem di mana setiap orang bisa memberi tanpa dihambat, berbagi tanpa terhambat”
“Keindahan bisa tumbuh di sela perbedaan, jika kita tak memaksakan semuanya harus seragam.”
Inilah inti ‘komensalisme’: coexistence damai tanpa dampak negatif satu sama lain.
Harmoni bukan harus jadi sama, atau harus selalu saling bantu. Harmoni adalah keberanian untuk berbagi ruang, tanpa saling mengganggu, untuk melahirkan musik kehidupan yang paling indah: Toleransi.
Biasakan yang tidak biasa!***
Footnote:
Teks ini dikembangkan berdasarkan sumber primer Commensalism. Proses penulisan dibantu dengan teknologi AI (DeepSeek) untuk penyempurnaan struktur dan diksi, kemudian direvisi, dikembangkan, dan dikontekstualisasikan secara mendalam oleh penulis manusia. Lisensi: CC BY-NC 4.0.












