Bencana Aceh-Sumatra Ribuan Jiwa Melayang, Air Bersih Lenyap: Rotary & LANTIP Turun Langsung Bangun Harapan

banner 468x60

ACEH – SUMATERA UTARA | Akhir November 2025 – Januari 2026

BENCANA banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh dan sebagian besar wilayah Sumatera sejak 25 November 2025 meninggalkan luka kemanusiaan yang sangat dalam. Lebih dari 500 jiwa dilaporkan meninggal di Aceh, sementara korban jiwa di Pulau Sumatera secara keseluruhan melampaui 1.000 orang. Ribuan lainnya kehilangan rumah, keluarga, dan sumber penghidupan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Namun di balik angka-angka tragis itu, ada krisis yang jauh lebih sunyi namun mematikan: hilangnya air bersih.

Sumur-sumur warga rusak dan tercemar lumpur. PDAM lumpuh. Sungai-sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi jalur bencana. Di banyak wilayah, air kebutuhan paling dasar manusia lenyap sepenuhnya.

 

SAAT NEGARA DIUJI, KOMUNITAS TURUN TANGAN

Di tengah situasi genting itu, Rotary Indonesia District 3410 bersama LANTIP Indonesia dan sejumlah komunitas kemanusiaan tidak menunggu keadaan membaik. Sejak hari-hari pertama pascabencana, tim tanggap darurat Rotary bergerak dari Jakarta menuju Sumatera Utara dan Aceh, menembus medan sulit untuk memastikan bantuan sampai langsung ke masyarakat.

Bantuan dikirimkan berkali-kali, berupa:

• sembako,

• obat-obatan dan alat kesehatan,

• pakaian baru dan layak pakai,

• serta dukungan logistik darurat.

Semua dikirim langsung ke lokasi terdampak, bukan sekadar disimpan di gudang.

KUNJUNGAN KEDUA, KOMITMEN DIPERKUAT

Pada kunjungan kedua awal Januari 2026, tim kemanusiaan Rotary dan LANTIP Indonesia diterima secara resmi oleh Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki, didampingi Wakapolda Brigjen Ari serta jajaran pejabat utama Polda Aceh.

Dalam pertemuan tersebut, satu pesan ditegaskan dengan jelas:

“Air bersih adalah kebutuhan paling mendesak. Tanpa air, bantuan lain tidak akan cukup.”

Arahan ini menjadi titik balik fokus bantuan: pembangunan sumur air bersih.

 

PERJALANAN 14 JAM MENYAKSIKAN KEHANCURAN

Dalam kunjungan lapangan terakhir, tim menempuh perjalanan hampir 14 jam dari Banda Aceh ke Aceh Tamiang, berhenti di lima titik terdampak:

Aceh Utara, Aceh Timur, Pidie Jaya, Aceh Selatan, dan berakhir di Tamiang.

Kondisi paling memprihatinkan terlihat di Aceh Tamiang, di mana pusat pemerintahan nyaris tidak berfungsi akibat kerusakan infrastruktur yang parah. Jalan rusak, jembatan putus, dan permukiman warga porak-poranda seperti yang tergambar jelas dalam dokumentasi video lapangan.

AKSI NYATA: 7 SUMUR DIBANGUN, 33 LAGI DIBUTUHKAN

Atas arahan Kapolda Aceh, Rotary berkomitmen membangun 40 sumur air bersih, dengan biaya Rp20 juta per sumur.

Sebagai langkah awal, setelah kembali ke Jakarta, Rotary langsung mengirimkan dana Rp140 juta untuk membangun 7 sumur pertama, yang akan ditempatkan di wilayah dengan krisis air paling parah, yaitu:

• Kabupaten Bireuen – Desa Ulee, 

• Kecamatan Jangka (1 sumur)

• Kabupaten Aceh Tengah (1 sumur)

• Kabupaten Aceh Selatan (2 sumur)

• Kabupaten Aceh Barat (2 sumur)

• Kabupaten Bener Meriah (1 sumur)

Penentuan lokasi dilakukan berdasarkan informasi lapangan dan data intelijen kepolisian, demi memastikan sumur:

• aman,

• tidak disabotase,

• dan benar-benar dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.

MASIH KURANG 33 SUMUR

Namun perjuangan belum selesai. Masih dibutuhkan 33 sumur tambahan agar kebutuhan air bersih masyarakat Aceh dapat terpenuhi secara layak.

Karena itu, Rotary dan LANTIP Indonesia membuka ajakan terbuka:

Satu sumur, Rp20 juta. Satu sumur, ribuan kehidupan terselamatkan.

Rotary memiliki yayasan dan relawan tetap di Banda Aceh, termasuk anak-anak asuh YAKESMA, yang siap turun langsung menyalurkan dan mengawal bantuan hingga ke desa-desa terpencil.

LEBIH DARI BAKTI SOSIAL

Apa yang dilakukan ini bukan sekadar bakti sosial sesaat. Ini adalah bagian dari Tujuh Area Fokus Rotary International, serta komitmen berkelanjutan LANTIP Indonesia untuk selalu hadir bagi sesama saat bencana datang tanpa peringatan.

PENUTUP

Di saat lumpur menutup sumur,

di saat air bersih menjadi barang langka,

ada tangan-tangan yang memilih bekerja, bukan berbicara.

Rotary dan LANTIP tidak menjanjikan segalanya.

Mereka memilih mengerjakan satu hal paling penting: menjaga kehidupan tetap berjalan.

Dan hari ini, Aceh masih membutuhkan kita semua.

Tim Rotary peduli*

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60